“Kekepoan yang membawa berkah” – kisah papiku yang kepo.


Sore itu Papih menelepon dengan background yang agak bising.

“Pei, ini Papih teh lagi di ondangan, ada tamu yang semeja sama Papih teh cucunya kena kawasaki cenah. Jadi ku Papih dikasih nomer Pepei ya bisi mau tanya-tanya langsung.” (Note:kami bicara dengan logat dan tambahan kosa kata bahasa Sunda 😄 seperti: cenah, teh, naon dll)


Ayah saya, yang saya panggil Papih adalah seorang yang sangat gemar berorganisasi. Sejak remaja Papih menekuni bela diri Karate dan beliau sangat aktif di organisasi tersebut hingga sekarang di usia 74 tahun. Papih juga seorang supel dan ramah. Apabila di sebelahnya ada orang yang tidak dikenal di sebuah momen yang sama, dia tidak akan segan untuk menyapa dan memulai pembicaraan terlebih dahulu. Dia juga pandai berbicara di depan umum. Dia sering diberi tugas menjadi Master of Ceremony (MC) di acara perkumpulan yang dia ikuti. Kalau ada Papih, pasti suasana menjadi seru. Istilah jaman sekarang ‘ga ada lu ga rame’.

Papih juga seorang yang murah hati dan suka menolong. Dia akan melakukan apa yang dia bisa ketika ada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Siapa pun itu, baik saudara, teman, pegawai atau orang yang tidak dia kenal sekalipun.

Seperti yang terjadi sore itu, ketika dia sedang berada di sebuah pesta pernikahan. Dia duduk semeja dengan beberapa teman yang dia kenal dan sebagian yang tidak dikenalnya.

Tamu yang duduk tepat di sebelahnya, seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya, sangat sibuk menelepon beberapa kali dan kelihatannya beliau sedang dihadapkan pada satu masalah yang cukup serius. Hingga akhirnya si Om sedikit berteriak ketika dia bicara di telepon dan Papih mendengarnya.

“…naon? Kawasaki? Naha siga ngaran motor? Panyakit eta teh?”(apa? Kawasaki? Koq seperti nama motor? Memangnya itu penyakit?”)

Setelah si Om selesai menelepon, Papih tidak segan2 lagi bertanya, “maaf ko, siapa yang kena Kawasaki? Cucu saya barusan kena juga.”

“Oh, bener itu teh penyakit? Ini anak saya barusan telepon, katanya cucu saya udah panas beberapa hari, trus tadi ke dokter teh cenah kena Kawasaki. Sugan saya teh hereui, da Kawasaki mah setau saya ngaran motor. (Saya kira dia bercanda, soalnya saya taunya Kawasaki itu nama motor).

Lalu berlanjutlah pembicaraan mereka hingga berujung pemberian nomer telepon saya.

Tak lama setelah itu, anak dari Om ini menelepon saya. Kami tidak perlu berbasa basi lebih lanjut waktu itu karena kondisi anak ini memang sudah cukup serius untuk segera dibawa ke Jakarta untuk ditangani oleh dokter spesialis yang ahli di bidangnya. (untuk informasi mengenai penyakit Kawasaki, bisa klik link berikut)

https://glowingmom.wordpress.com/2014/04/18/perjalanan-iman-melalui-kawasaki-disease-part-1/

Akhir dari cerita yang diawali oleh ‘kekepoan’ Papih saya ini berujung bahagia. Sang anak segera dibawa ke Jakarta dan mendapat perawatan yang tepat.

Papiku yang kepo nan peduli terhadap sesama

Saya jadi teringat, suatu hari saya makan di sebuah cafe cantik. Sambil menunggu makanan keluar, datanglah sekawanan orang asing berambut pirang duduk tidak jauh dari meja saya.

Pelayan cafe itu tidak dapat berbahasa Inggris dan menunya juga disajikan dalam bahasa Indonesia. Saya mendekati mereka dan menawarkan bantuan untuk menjadi penerjemah di antara keduanya. Setelah mereka selesai memesan, kami pun lanjut bercakap-cakap sambil berkenalan.

Pernah juga suatu hari saya sedang mengantri di sebuah supermarket di mal Semarang. Di depan saya berdiri seorang wanita asing berambut pirang sedang menunggu giliran untuk bayar. Sesampainya di kasir, dia merogoh tasnya untuk mengambil dompetnya. Namun setelah beberapa saat dia tidak dapat menemukan dompet yang dicarinya. Saya kepo tentunya, dan spontan saya bertanya padanya apa yang terjadi.

Dia bilang kalau dia yakin dompetnya dicuri orang di mal itu. Dan bukan kebetulan kalau sehari sebelum kejadian ini, saya kehilangan handphone di mal ini juga. Saya membantu wanita ini untuk melapor ke bagian security seperti yang saya lakukan persis di hari kemarin. Seperti dejavu rasanya. Saya meminta security untuk memutar rekaman CCTV yang pada saat itu masih hitam putih dan gambarnya sangat buram, tidak jelas sama sekali dan saya merasa CCTV di mal tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan hanya untuk formalitas saja.

Wanita ini meminta tolong agar saya untuk menelepon supirnya melalui handphonenya karena supirnya tidak dapat berbahasa Inggris. Lalu dia menelepon suaminya dan menceritakan apa yang terjadi.

Mereka sangat terpukul karena besok mereka akan meninggalkan kota Semarang, setelah tinggal disini selama 5 tahun, untuk pindah ke New Zealand. Mereka harus memblokir credit card yang ada di dompet wanita tersebut dan melapor ke berbagai instansi untuk menghindari pencurian identitas. Yang saya kagumi dari wanita ini adalah cara dia menghadapi kejadian malang yang dialaminya. Dia tidak marah-marah, tidak emosi, tidak teriak-teriak atau menangis. Dia menghadapinya dengan tenang dan pasrah. (Beda banget dengan saya di hari kemarin wkwkwkwkwk)

Dari pengalaman-pengalaman di atas, saya setuju dengan pernyataan bahwa anak meniru orang tuanya meskipun mereka tidak pernah mengajarkannya.

Saya sering melihat Papih dan Mamih saya menyapa orang dan mengajak ngobrol, sehingga saya tidak pernah kesulitan untuk bertemu orang baru dan berada di lingkungan yang baru. Begitu pula berbicara di depan umum. Bagi saya, hal tersebut bukan sesuatu yang sulit karena saya sudah biasa melihat Papih melakukannya sejak saya kecil.

Di Indonesia, rasa kepo itu sangat tinggi. Lihat saja kalau ada kecelakaan di jalan. Yang kepo langsung berkerumun. Ga tau duduk perkaranya sok ikut-ikutan paham. Tapi, dari cerita di atas, kepo tidak selalu buruk.

Yang buruk itu, ketika kita kepo akan apa yang terjadi pada orang lain, lalu menjadikannya bahan gosip yang merugikan orang tersebut.

Jadi….

kepolah untuk mendatangkan berkah,

kepolah untuk mendatangkan kebaikan,

kepolah untuk menolong orang lain,

kepolah untuk sebuah perubahan,

kepolah untuk kemanusiaan,

kepolah untuk mendoakan.

Tetaplah kepo, karena kepo menunjukkan kita peduli.

#kepo #parenting #budayakepo

“Finding your innermost demon” – sebuah tulisan di atas awan.


Kala itu, dalam perjalanan Dubai ke Jakarta, saya berusaha untuk tidak tertidur, dengan harapan agar sesampainya di Jakarta saya bisa tidur di jam yang normal.

Agar tetap terjaga, saya menonton sebuah film Bollywood yang berjudul “Dear Zindagi”.


Saya bukan penggemar film India, bukan juga penggemar Shah Ruk Khan, tapi film ini saya pilih karena berada di Top 5 Emirates Picks.

15 menit pertama, film ini menceritakan tentang kisah hidup seorang wanita muda bernama Kaira yang kerap kali gagal dalam menjalin hubungan, baik dengan lawan jenis maupun dengan keluarga dan teman-teman wanitanya.

Masalah datang bertubi-tubi hingga akhirnya Kaira mengalami insomnia (kesulitan untuk tidur). Karena kondisi ini mengganggu aktifitas hariannya, Kaira memutuskan untuk berkonsultasi dan menjalani terapi dengan seorang psikiater yang diperankan oleh Shah Ruk Khan.

Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya Kaira dapat mengeluarkan isi hatinya yang paling dalam pada dokter tersebut. Ternyata ketakutan Kaira untuk menjalin hubungan dengan sesama disebabkan oleh kepedihan yang dialaminya waktu kecil.

Pada usia 2 tahun, Kaira dititipkan pada kakek dan neneknya sementara orang tuanya pergi ke luar kota untuk merintis sebuah bisnis. Hari demi hari dilalui Kaira tanpa kasih sayang ayah ibunya meskipun kakek dan neneknya sangat mengasihinya.

Setelah Kaira bisa menggambar dan menulis, dia selalu mencurahkan isi hatinya berupa gambar dan tulisan yang dikirim kepada orang tuanya. Namun, orang tuanya sangat jarang membalas suratnya dengan berbagai alasan.

Hingga akhirnya setelah Kaira berumur 6 tahun, orang tuanya kembali membawa adik bayi Kaira. Hal ini membuat Kaira cemburu dan hatinya sangat terluka karena di mata Kaira, orang tuanya tampak lebih peduli dan sayang pada adiknya.

Pengalaman ini menggoreskan luka yang sangat dalam dan mempengaruhi kepribadian Kaira yang kelihatan sangat sombong, judes dan angkuh. Kerap kali dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis dia enggan untuk berkomitmen karena sesungguhnya Kaira takut ditinggalkan & dicampakkan, seperti perlakuan orang tuanya di masa lalu.

Setelah menceritakan masa kecilnya yang pedih, Kaira menangis sejadi-jadinya dan saat itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Sang terapis memberi nasihat agar masa lalunya tidak mem-“black mail” kebahagiaan di masa sekarang dan menghancurkan masa depan Kaira.

Sejak saat itu, Kaira mulai dapat melihat orang-orang di sekitarnya dengan kacamata yang berbeda. Dia dapat merasakan atmosfir yang positif kembali. Hubungan dengan ayah dan ibunya mulai pulih. Ibunya bahkan meminta maaf pada Kaira.

Akhir dari film ini tidak akan saya ceritakan – just in case ada yang ingin nonton sendiri.

Tapi moral dari film ini menurut saya sangat bagus. Karena tidak sedikit dari kita yang mengalami masa kecil yang kurang bahagia.

Banyak anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang yang penuh dari ayah dan ibunya. Mungkin orang tuanya sibuk mengurus bisnis atau bekerja.

Ada juga yang mengalami trauma yang luar biasa pada masa kecilnya. Contohnya, perceraian orang tua, meninggalnya orang tua atau saudara kandung, sebuah peristiwa atau kecelakaan yang membekas dalam hidupnya.

Ada lagi yang keluarganya utuh, namun ayah ibunya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mereka tidak tahu bagaimana menjadi orang tua untuk anak-anaknya karena usia mereka terlalu muda ketika dikaruniai anak.

Sebagian mengalami trauma pada masa remaja. Mereka di bully atau dilecehkan, diputus pacar, di ghosting atau dilukai oleh pasangannya.

Banyak juga kasus dimana para orang tua secara tidak sadar menyakiti hati anak-anaknya karena mereka juga pernah terluka atau dilukai.

Atau para orang tua dengan segudang kesibukan dan rutinitas yang ada, kurang memberikan waktu dan perhatian sehingga anak-anak merasa diabaikan, tidak berharga dan tanki emosi anak-anak mereka menjadi kosong.

Hal-hal di atas akan mempengaruhi kepribadian dan emosi seseorang serta mempengaruhi hubungan dan cara dia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Yang klise, umumnya yang menjadi korban adalah orang-orang terdekatnya seperti ayah, ibu, suami, istri dan anak-anak. Dan orang yang bersangkutan akan sulit untuk mensyukuri dan menikmati kehidupan yang telah dianugrahkan Tuhan kepadanya.

Pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa orang yang tersakiti, cenderung akan menyakiti orang lain?

Hurt people hurt people.

Apabila kita merasa hal ini terjadi pada diri kita, anak-anak atau orang-orang terdekat kita, carilah pertolongan untuk membereskannya. Trauma atau kepedihan itu harus diproses hingga tuntas.

Caranya?
Konseling dengan orang yang tepat. Atau untuk langkah awal, kenali trauma atau kepedihan ini dengan merenung secara pribadi apa yang selama ini menjadi ‘demon‘ (setan) dalam diri kita.

Berdamailah dengan masa lalumu. Berdamailah dengan diri sendiri. Ampuni orang yang melukai hati kita dan berkati mereka.

Yang terakhir…. move on. Enjoy life. Hidup hanya sekali. Nikmati anugrah yang sudah Tuhan beri. Make the best of it.

Seorang raja bijaksana pernah berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”

Peila Silvie
16th May 2017
@Emirates Aircraft
Otw from Dubai – Jakarta

#relationship #startingright #trauma #hurtpeople #forgiveness

“Dalam pernikahan: tak cukup hanya Cinta” – POV dari seorang yang telah menjalani.


Menemukan pasangan hidup lalu menikah kerap menjadi ‘final destination’ seseorang ketika memasuki usia dewasa, terutama kaum Hawa.

Proses ini biasanya berawal dari rasa ketertarikan pada lawan jenis dengan berbagai cerita; ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama, ada yang awalnya berteman lalu saling suka, ada yang bertemu di tempat kerja, ada yang bertemu secara tidak sengaja… duduk bersebelahan di dalam kereta misalnya.

Begitu banyak cerita dan peristiwa seputar cinta yang berujung di pelaminan. Banyak pula yang gugur di tengah jalan… meninggalkan luka, mengubur asa, berujung kepahitan.

Cinta memang mengawali sebuah hubungan, namun nyatanya, dalam pernikahan ‘tak cukup hanya Cinta’. Banyak hal lain yang perlu dimiliki dalam menjalani pernikahan.

1. Pengertian
Dibutuhkan pengertian untuk memahami sikap dan perilaku dua insan yang tumbuh dalam pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda, kemudian bertemu ketika mereka sudah dewasa dan menjadi SATU.

2. Pengorbanan
Kesepakatan dapat diraih ketika keduanya bersedia mengorbankan ego masing-masing.

3. Materi
Meski terdengar duniawi, namun tak dapat dipungkiri uang dapat menjadi sarana untuk mewujudkan mimpi.

4. Komitmen
Cinta dapat pudar, namun janji suci untuk selalu mendampingi dalam segala kondisi yang diucapkan di hadapan Tuhan dan para saksi harus ditepati.

Namun, yang terutama dan yang terpenting tetaplah Cinta.

Tanpa cinta, kita tak mau mengerti,
Tanpa cinta, kita tak rela berkorban,
Tanpa cinta, materi menjadi tuan,
Tanpa cinta, komitmen menjadi beban.

Pernikahan bukan akhir dari sebuah pencarian. Bukan akhir dari masa pacaran. Bukan juga sebuah pencapaian. Apalagi sebuah pelarian.

Pernikahan adalah awal sebuah rumah tangga yang baru, awal sebuah proses pembentukan karakter, awal perjalanan yang seru, ketika dua menjadi SATU.

Dalam pernikahan, masa pacaran dengan segala keseruannya harus tetap berlanjut, karena dalam pernikahan kita akan semakin mengenal diri kita sendiri dan semakin mengenal pasangan kita.

Pernikahan adalah proses pemurnian. Bagi pria, menjadi seorang imam dan kepala yang mengasihi istri. Bagi wanita, menjadi penolong yang setia dan menghormati suami.

Peran suami dan istri bagaikan sepasang sepatu. Berbeda kanan dan kiri, namun tak dapat dipisahkan dalam menjalankan misi. Bersatu melangkah menggapai visi.

“Relationship goal” dalam setiap pernikahan adalah untuk selalu mengingat dan memahami esensi dari pernikahan itu sendiri. Bukan tentang aku atau kamu lagi, tapi tentang KAMI.

To have and to hold,
For better for worse,
For richer for poorer,
In sickness and in health,
To love and to cherish,
For as long as we both shall live.

07.01.22

#takcukuphanyaCINTA #relationshipgoal #marriagelife

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 18 – FINALE)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Rabu, 7 Juli 2021 – Hari ke 26

Semalam saya sudah menyusun rencana untuk pagi ini. Kalau beberapa hari terakhir saya terpukau dengan pemandangan matahari terbenam, di hari terakhir ini saya ingin melihat indahnya langit dengan pemandangan matahari terbit. Meskipun matahari terbit dan terbenam terjadi setiap hari sama seperti udara yang kita hirup setiap detik, namun kita sering tidak menyadari keberadaannya.

Saya membuka gorden di kamar. Langit masih gelap. Saya panjatkan doa dengan menitikkan air mata. Grateful, excited, terharu biru After 23 days in isolation, I am finally going home to be with my family. Saya membayangkan mungkin seperti ini yang dirasakan seorang napi di hari pembebasannya.

5.35 saya ke rooftop. Di sebelah timur, langit begitu cantik. Terlihat ada gradasi warna alami yang sangat indah disana. Saya mengabadikannya di handphone sambil mengagumi fenomena ini. Dari gradasi warna tadi, perlahan saya melihat matahari terbit seperti cincin dengan semburat warna oranye yang indah di sekitarnya, hingga akhirnya Sang Mentari tampak sepenuhnya. Saya merekamnya selama 9 menit tanpa berhenti. Pegel? Iya wkwkw, tapi worth it.

Saya kembali ke kamar dan mulai memasukkan barang ke mobil satu per satu. Dimulai dengan yang ringan dulu supaya bisa dibawa sekaligus di lengan kanan dan kiri. Lalu balik ke kamar untuk mengambil barang selanjutnya. Baru sekali jalan, badan sudah berkeringat dan nafas ngos-ngosan, tapi saya berusaha santai dan tidak buru-buru sambil sesekali mengatur nafas.

Setelah bolak balik 4 kali, saya berdiam diri sejenak, agar keringat berhenti mengalir. Saya rapihkan ranjang dan bersihkan kamar sehingga tampak bersih dan rapih sama seperti waktu saya datang. Lalu saya mandi dan sarapan.

Saya membuka pintu kamar membawa koper dan oksigen. Ternyata ada petugas hotel yang sedang membersihkan lorong. Saya minta tolong bapak tersebut untuk membantu membawakan sisa barang saya ke mobil. Akhirnya selesai sudah sesi angkut-angkut barang. Saya menyerahkan kunci kamar ke mbak yang bertugas di reception dan memberikan sedikit apresiasi atas pelayanannya selama saya disana.

Jam 7.30 saya meninggalkan hotel menuju rumah sakit untuk mengambil hasil X-ray kemarin sekaligus mengulang cek lab yang kemarin gagal. Saya juga datang pagi karena ingin daftar on the spot untuk konsultasi dengan dr. Indra.

Saya sangat senang ketika membaca hasil X-ray yang menyatakan bahwa bercak sudah berkurang. Meski jujur kalau lihat film x-ray nya, saya tidak bisa membedakan dengan hasil-hasil sebelumnya. Tapi, kesan yang ditulis dokter disitu cukup membuat saya senang dan puas. Finally, ada satu titik dimana bercak tidak terus bertambah namun berkurang. It is a good sign.

Suasana di ruang tunggu lab begitu sepi. Hanya ada suster yang duduk di belakang counter. Yes.. I’m the first one, pikir saya.

“Sus, saya mau daftar untuk konsultasi dengan dr Indra pagi ini bisa ya?”

“Sebentar saya cek ya. Em… maaf ibu, dr Indra hari ini cuti tuh”

“Lho, kemarin malam saya telepon kesini katanya praktek, malah disuruh daftar langsung pagi ini”

“Iya bu, maaf mungkin yang angkat telepon tidak tahu kalau dr Indra hari ini cuti”

“Oh ya udah kalau begitu, terima kasih Sus”

Saya langsung menuju ke lab untuk pengambilan darah. Tidak ada pasien lain yang menunggu disitu. Suster yang bertugas seorang wanita yang belum saya lihat sebelumnya.

“Pagi ibu, silahkan duduk. Bisa tolong sebutkan nama dan tanggal lahir”

“Semoga hari ini berhasil ya Sus, kemarin saya ditusuk 3x tapi gagal semua.”

Tanpa ditanya, saya lalu bercerita pada susternya kalau hari ini saya akan pulang ke rumah menemui anak-anak.

“23 hari isoman sus, hari ini saya pulang”

“Sama persis bu, saya juga 23 hari isoman dan hari ini saya pertama kali mulai bekerja lagi.”

“Wah kita jodoh ya. Kok bisa persis”

Lalu suster tersebut bercerita bahwa hampir semua koleganya sudah terpapar.

Kali ini sekali coblos saja, darah langsung mengalir. Saya lega… lega sekali, karena kemarin saya ketakutan kalau darah kental.

Setelah selesai semua, saya bergegas meninggalkan rumah sakit. I just can’t wait to go home.

Di tengah perjalanan menuju rumah, saya ingat kalau sudah beberapa hari anak saya yang sulung ingin makan semangka, jadi saya mampir dulu ke super market yang saya lewati. Entah mengapa saya merasa bahagia bisa bebas kembali melakukan aktifitas seperti sebelumnya.

Bayangan saya, sepulangnya nanti, saya akan mulai masak kembali, menyiapkan sarapan, makan siang, cemilan, makan malam, sehingga yang awalnya hanya bertujuan membeli semangka, berakhir dengan satu troli penuh, termasuk Dark Chocolate favorit saya yang sudah saya idam-idamkan.

Sampai di depan rumah, saya masukkan mobil, lalu menurunkan belanjaan dan sebagian barang. Lalu saya mandi di kamar mandi belakang. I can’t wait to surprise my sons.

Rambut yang masih basah saya tutup dengan handuk dan saya bergegas masuk ke dalam rumah. Saya menyapa tanaman-tanaman saya yang berjajar di tangga. Syukurlah kalian masih hidup.

Saya sudah menyiapkan handphone untuk merekam adegan pertemuan saya dan anak-anak, meski saya tahu reaksi mereka akan biasa-biasa saja seperti beberapa surprise yang saya berikan sebelumnya.

Memasuki ruangan depan, kondisi rumah masih sama persis sewaktu saya tinggalkan 23 hari yang lalu. Tidak ada yang berubah, letak berantakannya masih sama wkwkkwwk. Lalu saya memasuki kamar anak-anak dengan diam-diam. Mereka berdua sedang rebahan sambil asik bermain iPad.

“Boys, I’m home”
Serentak mereka menoleh dan menghampiri saya.

“Mama….”

“I miss you so much boys.” Saya tak kuasa membendung air mata. Kami bertiga berpelukan.

“You miss me?” – Tanya saya lagi… wkwkwk mama yang insecure ini. Memang kadang kita perlu peneguhan kalau keberadaan kita sungguh-sungguh diharapkan.

Ditinggal 3 minggu aja, anak2 sudah kelihatan lebih tinggi. Saya mengajak anak-anak untuk selfie lalu mengirimkan fotonya kepada keluarga dan teman-teman.

“Ci, udah tak bilangi, kowe kudu ayu, kok malah andukan” wkwkwkk

“Kesuwen kalo macak dulu (kelamaan kalau dandan dulu)”

Lalu saya menuju ke meja makan dan terkejut ketika melihat lap tangan biru yang masih tergantung disana. Lap tangan yang sama ketika saya meninggalkan rumah ini 23 hari yang lalu wkwkwk… Yang berbeda adalah, ada air purifier di setiap ruangan.

Saya membereskan belanjaan saya dan barang-barang dari hotel, namun baru sebentar saja, jantung rasanya sudah berdegup kencang dan nafas kembali ngos-ngosan. Ah sebaiknya saya rebahan dulu. Mungkin perlu penyesuaian, karena biasanya ruang lingkup saya di kamar hotel hanya sepetak saja.

Sambil rebahan, saya chatting di beberapa group. Menginformasikan kelegaan saya that I’m finally home.

Saya masih berbaring ketika menerima berita yang sulit untuk diterima.

Itax sudah berpulang.

Ada rasa sakit di dada. Nyesek rasanya. Begitu cepat dia pergi. Belum siap menerima kabar ini.


Di sekolah anak-anak kami, saya dan Itax dipertemukan. Waktu itu kami diberi tugas untuk membuat kostum dari barang-barang bekas. Jujur, saya bukan penganut aliran kreatif. Untuk art & craft, I give up.

Bersyukur saya dipasangkan dengan Itax, seorang yang kreatif dan telaten. Dia mengusulkan membuat kostum dari bungkus nutrijel. Saya ‘manut’. Tinggal gunting, gunting, lem…. gunting, gunting, lem…. tidak ada kreasi lebih dari saya. Itax dengan sabar membantu sebisanya. Tiga tahun anak-anak kami sekelas terus, sehingga kami pun sering bertemu saat menjemput sekolah.

Di mata saya, Itax sangat perhatian pada anak-anaknya. Dia selalu ‘well prepared’ kalau ada tugas dari sekolah. Dia yang selalu info di group mami2 perihal tugas anak-anak. Dia yang selalu menawarkan diri membantu mendekor kelas untuk acara pemotretan dan perpisahan. Dia juga yang berinisiatif membuat group ketika mami2 perlu berdiskusi untuk acara kelas. Dia seorang ibu yang rajin dan cakap.


Hari ini, 7 Juli 2022, tepat setahun Itax meninggalkan kami semua. Baru hari ini saya dapat menyelesaikan rangkaian tulisan saya mengenai pengalaman saya selama karantina 23 hari tahun lalu. Awalnya saya menulis dengan menggebu-gebu, berbagi pengalaman dan cerita lucu, siapa tau ada yang butuh saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, ketika tiba saatnya untuk menceritakan apa yang terjadi di hari itu, 7 Juli 2021, hari dimana saya pulang ke rumah, namun di saat yang sama, Itax pulang ke rumah Bapa. Saat itu, saya tidak mampu menulis lagi. Tidak mampu menyelesaikan episode terakhir ini.

Hari ini, saya selesaikan apa yang sudah saya mulai. Tuhan sangat baik dan saya percaya Dia telah mengangkat dan memulihkan Itax untuk berada dalam kekekalan menikmati kemuliaanNya. Terima kasih Itax, telah mewarnai kehidupanku dengan ketulusanmu, keceriaanmu, kesederhanaanmu, ke-kreatifanmu. Kamu telah meninggalkan legacy yang berharga untuk anak-anakmu. Rest in peace my dear friend, we love you.


Buat teman-teman yang telah mengikuti perjalanan covid saya dari episode 1 hingga episode terakhir ini, saya mengucapkan terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca dan memberikan feedback, komentar dan menghibur sekaligus memberi semangat pada saya untuk terus menulis.
Maaf kalau tiba-tiba terhenti, saya juga heran sendiri, mengapa tak mampu menulis lagi.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan perhatian dalam doa, kiriman makanan, obat, buah, panci, ucapan lewat WA, telepon, haha hihi di group dan berbagai tips dalam menanggulangi Covid.

Hari ini saya telah kembali. Doa saya agar kita semua diberi kesehatan dan selalu dalam perlindungan Tuhan. To God be the glory.

7 Juli 2022.

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 17)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Minggu, 4 Juli 2021 – Hari ke 23

“Me time” akan segera berakhir. Sooner or later saya harus memutuskan kapan saya akan pulang ke rumah. Ada keluarga yang menanti disana.

“Sudah 23 hari masa masih menular?”

“Kamu gak kangen rumah to ci?”

“Gak kangen anak-anak?”

“Gak bosen tah kamu di hotel terus? Gak kesepian?”

“Anteng ya pei ..hebat lu teh😁. Udh 3 mg di htl ya?”

Begitulah beberapa komentar dan pertanyaan dari teman-teman yang selama ini memantau.

Memasuki minggu ketiga memang suasana yang saya rasakan mulai berubah. Kondisi fisik yang semakin hari semakin membaik membuat isoman ini menjadi sebuah “waktu s e n g g a n g” yang secara tidak sadar telah ‘hilang’ dalam hidup saya. Saya tidak dengan sengaja meluangkan waktu untuk beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Padahal ‘me time’ itu sangat diperlukan agar kita bisa tetap waras. Akibatnya, saya burned out.

Selama isoman, saya bisa melakukan berbagai kegiatan tanpa merasa bersalah dan otak tidak memikirkan ‘besok masak apa ya? nanti siang anak-anak kasih cemilan apa ya? nanti malam masak apa?’. Saya bisa meluangkan waktu untuk merenung tanpa diburu-buru. Saya bisa ‘being mindful’; sesuatu yang saya upayakan terus untuk dilakukan namun seringkali gagal.

Being mindful adalah ketika kita melakukan sesuatu secara sadar dan fokus sepenuhnya – tubuh, jiwa, raga bersatu sepakat dalam melakukan aktifitas tersebut. Contoh yang mudah adalah ketika kita sedang nonton film. Mata, pikiran, tubuh fokus pada aktifitas menonton film tersebut.

Seringkali dalam kesibukan dan keseharian kita, mindfulness sulit diterapkan, namun tidak mustahil untuk dilakukan. Contohnya, ketika saya sedang cek WA, lalu anak saya bertanya tentang sesuatu hal. Saya bisa dengan mudah menjawab apa yang dia tanyakan tanpa melihat wajah anak saya, dengan mata masih tertuju pada layar handphone. Seharusnya yang terjadi adalah, ketika anak saya bertanya, saya berhenti menatap layar handphone atau meletakkannya, lalu saya palingkan wajah saya pada anak saya dan menatap matanya untuk menjalin sebuah komunikasi.

Contoh yang lain ketika saya makan siang di kantor, biasanya saya menyantap makanan sambil liat Youtube. Seharusnya, being mindful, saya fokus pada setiap kunyahan menikmati rasa dan tekstur makanan yang masuk ke mulut saya.

Latihan nafas adalah salah satu bentuk penerapan mindfulness. Ketika kita fokus pada oksigen yang masuk ke dalam tubuh, melalui saluran pernafasan, memasuki pembuluh darah lalu ke paru-paru kemudian ke jantung dan dipompa oleh jantung untuk disebarkan ke seluruh sel dalam tubuh, kita akan menyadari lambat laun nafas kita semakin panjang, semakin lambat dan kita pun semakin relaks.

Mindfulness memang harus dilatih, harus diupayakan – tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Saya yakin ketika kita ‘being mindful’, akan banyak aspek dalam kehidupan kita yang berubah -> menuju ke arah yang lebih baik tentunya.

Pagi ini saya excited sekali karena mau berjemur memakai topi yang baru saya beli. Ternyata sukacita memakai barang baru itu bukan hanya milik anak-anak saja wkwkwk… Tidak lupa saya selfie dan mengirimkan pada mami dan beberapa teman untuk menunjukkan bahwa saya sudah sehat dan segar bugar; tidak perlu khawatir lagi.

Entah kenapa hari ini saya ngidam roti tawar pake meises lagi. Saya titip suami untuk belikan, tapi sebelum suami keluar rumah, Alice sudah menawarkan untuk membelikannya buat saya. Thank you Alice.

Siang ini saya dan suami membahas secara mendalam kira-kira apa yang menyebabkan saya terpapar, padahal kami selalu bersama-sama, makan makanan yang sama, berada di ruangan yang sama juga. Kami mengingat-ingat kapan dan kemana kami pernah pergi sendiri. Tapi sulit memang kalau mau ditelusuri. Menurut analisa saya, saya kecapean, waktu istirahat kurang, jadi ketika virus itu masuk, imun sedang drop dan virus menyerang.

Tapi suami berpendapat lain. Menurutnya, air rebusan bawang dayak yang dia dan mami mertua minum setiap hari selama setahun terakhir membantu menjaga stamina sehingga mereka tidak terpapar. Sangat mungkin, karena dari dulu bawang sudah terkenal memiliki manfaat sebagai anti virus. Mungkin nanti sepulang isoman, saya akan ikut meminumnya juga.

Hari ini saya putuskan untuk PCR hari Selasa, tanggal 6 Juli sekaligus cek darah dan rontgen lagi untuk terakhir kali sebelum saya pulang. Saya berharap setelah 25 hari dari awal gejala, hasilnya langsung negatif dan besoknya bisa pulang. Intinya saya ingin membawa raport dengan nilai biru sebelum pulang, setidaknya ada ‘reassurance’ (kepastian).

Dengan plan ini, saya tahu kalau ‘me time’ saya hanya tersisa dua hari lagi. Rasanya sungguh nano-nano, tentu rasa senang lebih dominan. Saya pun mulai membereskan barang-barang di kamar. Menyusun rencana bagaimana nanti membawa pulang barang yang sebanyak ini sendirian.

Saya pergunakan waktu yang ada untuk menjawab beberapa WA yang masuk. Ada beberapa teman yang juga sedang isoman dan kami saling berbagi cerita. Gejalanya bervariasi ada yang ringan hingga berat.

Sore ini saya kembali ke rooftop, selain mencari udara segar, saya juga ingin menikmati indahnya ‘golden hour’. Sudah lama tidak melihat ‘sunset’ – dimana matahari benar-benar ‘tenggelam’. Sore ini saya bisa menyaksikannya dan sangat indah sehingga saya terus menerus mengabadikannya di handphone saya. Besok akan saya nikmati lagi pemandangan ini.

Senin, 5 Juli 2021 – Hari ke 24

Setelah 2 hari minum obat ramuan, saya merasa batuk jauh berkurang. Sesekali masih, tapi tidak sesering sebelumnya. Kemarin sewaktu sharing dengan beberapa teman yang pernah mengkonsumsi obat ini, ternyata ada juga yang tidak cocok dan menyebabkan berbagai reaksi di tubuh mereka.

Hari ini saya tidak berolah raga karena detak jantung kembali meningkat dan sejak semalam kaki kanan saya terasa kebas. Saya tidak tahu pasti penyebabnya, tapi hal ini membuat saya cukup khawatir. Saya pernah dengar kalau kaki yang kebas itu kemungkinan karena aliran darah yang kurang lancar, saya jadi deg-degan juga.

Selain itu, saya juga merasa otot di bagian tulang bahu ke arah tulang dada depan terasa tegang dan sedikit pegal, sehingga saya oles dengan YL oil dan memijitnya. Setelah beberapa saat memijat otot di sekitarnya, saya bisa merasakan kaki saya sudah tidak kebas lagi. Apakah keduanya memang berhubungan? Pijat bagian bahu dan dada kiri, kaki kanan tidak kebas lagi. It works.

Mengetahui bahwa waktu isoman tinggal sehari lagi, saya lebih memperhatikan apa yang saya lakukan hari ini – try to be mindful. Dari mulai berjemur, pandangan mata saya arahkan pada pemandangan 360 derajat di rooftop, dari sisi kanan, sisi kiri, juga di bawah sana. Lalu saya rasakan panas matahari yang menembus pakaian di bagian punggung belakang. Setelah 10 menit, saya kembali ke kamar.

Tidak berapa lama, kaki kembali terasa kebas, padahal tadi setelah dipijat rasanya sudah mulai lancar. Saya jadi sedikit concern, apakah Ddimer meningkat lagi? Apakah darah saya mengental? Apakah gara-gara trombosit yang naik kemarin?

Saya coba mengintip mbah Google untuk mencari info tentang badai sitokin yang beberapa kali saya dengar menjadi penyebab kematian pasien covid. Saya cek, tanda2nya jauh dari apa yang saya alami sekarang. Terkadang memang masih demam, tapi tidak tinggi sama sekali, hanya berkisar di 37.1C. Besok rencana ke rumah sakit pagi-pagi sebelum antrian menjadi panjang. Hari ini saya hanya rebahan, dengan kaki diganjal bantal dan selimut agar lebih tinggi dari badan, dan merenung.

Saya percaya apa yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan, dan semua yang terjadi, yang kita alami, seijin Tuhan. Begitu juga dengan pengalaman saya terpapar covid ini. Meski dari awal saya sangat yakin akan dapat melewatinya dengan baik, namun ada masa-masa dimana saya ragu, bahkan saya sempat berpikir tentang kematian.

Tentu kekhawatiran itu tidak terucap, hanya terlintas dan menjadi pergumulan di kepala saja. Namun satu pikiran itu berkembang menjadi kemana-mana. Apakah saya sudah siap jika memang waktunya tiba? Jujur, jawabannya adalah belum. Masih banyak yang belum saya selesaikan. Lucunya, yang saya pikirkan ‘kamar saya masih berantakan, kasian nanti yang membereskan’.

Yang awalnya hanya merenung tentang ‘bukan kebetulan’, akhirnya menjadi sebuah perenungan yang dalam. Saya ingat sebuah kejadian tiga tahun yang lalu, dalam perjalanan dari Semarang menuju Jakarta. Siang itu pesawat kami berangkat pukul 1.50 pm. Cuaca di luar cerah. Saya pergi berdua bersama suami. Saat itu pilot mengumumkan kalau pesawat akan segera mendarat. Seperti biasa, para pramugari pun bersiap dan mengambil posisi. Saya dan suami masing-masing sedang fokus pada tayangan di layar masing-masing. Saya ingat sekali, suami sedang menonton film India yang kocak sehingga sesekali dia tertawa.

Saya bisa merasakan kalau pesawat sudah mulai turun dari ketinggian, namun tidak lama kemudian saya merasa pesawat berputar-putar sambil menaikkan ketinggian. Tidak ada pemberitahuan dari pilot atau kru pesawat mengapa tidak kunjung mendarat. Saya pun hanya bertanya-tanya dalam hati, kok perasaan tadi sudah mau mendarat kenapa sekarang naik lagi. Saat itu saya duduk di pinggir jendela dan saya lihat keluar ternyata pesawat sudah berada di awan-awan lagi. Jantung saya mulai berdegup lebih kencang. Ada apa gerangan?

Setelah kurang lebih 20 menit berada di ketinggian, akhirnya terdengar suara pilot di cabin. Saya masih ingat dan masih bisa membayangkan intonasi dan suara dari sang pilot hingga hari ini. Suara yang terpatah-patah dan penuh keraguan………

“Bapak & Ibu yang terhormat, dikarenakan cuaca di Soekarno Hatta tidak memungkinkan kita untuk mendarat, eeeemmmm…. (ada keheningan disini) maka kami akan usahakan agar dapat mendarat di … eeemmmm (pause lagi) di … em… (pause lagi)…. – (disini rasanya lutut udah lemes)- Tanjung Karang…. (sisa dari kata-kata pilot sudah tidak saya dengarkan lagi karena jantung sudah deg-degan, lutut terasa lemas).”

Saya menoleh pada suami yang saat itu tidak ada perubahan sikap duduk maupun raut wajah. Matanya masih tertuju pada film India tersebut, padahal saya yakin dia pun mendengar pengumuman yang sama melalui headsetnya. Saya berpikir dalam hati, apakah ada sesuatu yang salah dengan pesawat ini sehingga suara pilot terdengar terbata-bata dan penuh keraguan. Tapi saya lihat penumpang lain pun terlihat biasa saja. Mungkin mereka sedang berdoa dalam hati.

Pesawat tidak menunjukkan tanda-tanda akan mendarat, masih berputar-putar di atas. Saya berusaha mengingat lagi apa kata pilot tadi. Bukankah dia mengatakan Tanjung Karang? Mungkin masih di Jakarta juga, mungkin di landasan kecil, mungkin dekat Tanjung Priuk? Tapi kenapa tidak segera mendarat? Bukankah udara di luar sana cukup cerah? Tidak ada awan gelap, tidak ada hujan.

Saya bisa merasakan jantung saya berdegup sangat cepat. Nafas yang tadinya biasa, menjadi lebih berat dan sesekali saya menghela nafas panjang. Saya berdoa dalam hati dan sungguh berserah pada yang Kuasa. Saat-saat seperti ini sungguh saya merasa sangat kecil dan tak berdaya. Semua dalam kendaliNya.

Pikiran sudah meraja lela kemana-mana. Bagaimana kalau…. bagaimana kalau….. Sementara mulut komat kamit mengucap doa, menyerahkan semua ke tangan yang Kuasa.

Hingga tak berapa lama, terdengar suara pilot kembali. Kali ini dengan suara yang lebih mantap dan meyakinkan.

“Bapak & Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Radin Inten Bandar Lampung. …”

What?? Tujuan kita ke Jakarta kenapa sekarang kita mendarat di Sumatera? wwkwkkw.. Meski kebingungan namun ada satu kelegaan. Sang pilot menginformasikan bahwa pesawat akan segera mendarat dan berhenti beberapa saat untuk pengisian bahan bakar.

Fiuh…. ingin nangis rasanya. Terlihat beberapa penumpang pun turut lega. Mereka mulai membuka suara.

Setelah selesai mengisi bahan bakar, akhirnya pesawat terbang menuju Jakarta dan mendarat di Soekarno Hatta dengan selamat. Tentunya pengalaman ini tidak akan saya lupakan, karena sesampainya di Jakarta, kami mendapat kabar dari travel agent bahwa trip kami ke Eropa malam itu juga dibatalkan. Meski demikian, kami tetap bersuka cita, karena kami telah mendarat dengan selamat, hanya itu yang kami pikirkan.

Hari ini, saya kembali mengulang pertanyaan yang pernah terngiang …. ‘bagaimana kalau waktu saya tiba, sudah siapkah saya menghadap Dia? adakah yang belum saya selesaikan (selain membereskan kamar saya wkwkwk)? adakah ganjalan dan kepahitan yang masih tersisa di hati saya?’

Saya mengambil waktu untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dari sekian banyak yang terlintas di pikiran saya, satu yang saya rasa cukup penting yaitu r e l a s i atau hubungan dengan orang-orang yang saya temui dalam perjalanan kita di dunia ini. Bukankah saya percaya tidak ada yang kebetulan? Dari sekian banyak umat manusia di dunia, jika kita dipertemukan dengan pasangan, anak, orang tua, saudara, sahabat, teman, karyawan, boss tentunya satu hal yang luar biasa. Kita dipertemukan di tengah perjalanan untuk saling menyapa, mengenal, lalu berjalan bersama atau berpisah di persimpangan sebelum akhirnya kita semua menuju kepada kekekalan.

Renungan saya akhiri karena tak terasa saya jadi menangis sendiri. Hanya karena anugrahNya saja saya berada disini hingga detik ini.

Covid yang tidak saya harapkan ini mengajarkan banyak hal. Meski tak diharapkan, waktu luang ini diijinkan agar saya dapat ‘beristirahat sejenak’ di tengah rutinitas yang membara. Kita semua perlu menekan tombol ‘break’ untuk s l o w i n g d o w n agar dapat menikmati esensi kehidupan. Tubuh yang lelah ini berteriak untuk diperhatikan, berikan tidur yang cukup, makanan yang sehat, pikiran yang tenang. Dan inilah yang saya dapatkan selama isoman.

Pandemi secara global memberikan dampak yang besar dalam setiap aspek kehidupan, baik positif maupun negatif tentunya. Sisi positif yang saya dapatkan adalah bisa spend more time dengan anak-anak di rumah, mengajari life skill (baca: masak nasi, cuci piring dan jemur baju wkwkwk) yang selama ini mungkin dianggap tidak perlu. Saya juga bisa memahami dan mengerti pergumulan anak-anak dalam menjalani online school pada saat ini. Sekolah yang kita pikir selama ini hanya untuk kegiatan belajar dan mengajar, ternyata bagi anak-anak adalah wadah untuk mereka mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Mereka sangat kehilangan moment-moment di sekolah bersama teman-teman mereka.

Pandemi memang telah banyak merubah hidup kita. Mungkin ini saatnya kita merubah strategi, ganti posisi, menggali potensi.

Sore ini saya tidak ingin melewatkan sunset lagi. Matahari tenggelam tepat di samping apartment MG Suite persis seperti kemarin, hanya saja hari ini matahari tertutup awan tebal, namun di justru tampak ‘ray of light’ yang terlihat bersinar di sekitar matahari yang warnanya seperti kuning telur asin. Semuah fenomena alam yang selalu saya kagumi dan tidak pernah membosankan untuk dinikmati.

Malam ini saya menanyakan pada Grace, teman saya yang juga sedang isoman, apakah sebaiknya saya tes PCR di tempat lain saja untuk menghindari ‘varian delta’ yang katanya bisa menular hanya dengan berpapasan saja.

“Ciiii kita tu kenanya varian delta wkwkwkwkw”

“oya? kok tau?”

“yang ct nya rendah-rendah itu varian delta wes”

“hahaha jadi aku aman dong kalo ke rumah sakit”

“iya ci gapapa, justru kamu lagi aman-amannya”

Baiklah kalau begitu, kembali ke rumah sakit lagi besok.

Selasa, 6 Juli 2021 – Hari ke 25

Pagi ini suhu tubuh di 36.5C dan saturasi di 98, detak jantung 89. Semuanya baik dan normal. Selesai Mezbah Syukur, saya merebus 2 butir telur untuk sarapan. Pesan Firman Tuhan pagi ini mengingatkan untuk ‘menguasai diri, jadilah tenang, supaya kita dapat berdoa’. Penguasaan diri itu tidak mudah, namun perlu dilatih agar kita bisa tenang dari segala pikiran yang tidak karuan dan dapat berdoa. Noted, mari kita berlatih untuk menguasai diri.

Sambil menunggu telur matang, saya teringat sebuah lagu lama yang dulu sering dinyanyikan oleh The Budionos Sisters – lima sahabat kakak beradik yang saya kenal di persekutuan pemuda di Melbourne. Begini refrainnya:

Hidup bukan kar’na hari, hidup hanya kar’na arti
Bebas dari segala dosa, inilah arti hidupku
Hidup bukan kar’na hari, hidup hanya kar’na arti
Bebas dari segala dosa, inilah arti hidupku
Arti hidupku

Jam 7.30 saya sudah keluar dari hotel. Suasana di jalan menuju ke rumah sakit sangat sepi. Entah karena masih pagi, atau karena memang kegiatan dikurangi.

Sesampainya di tempat PCR, , konter masih tutup namun sudah ada beberapa orang yang menunggu disana. Jam 8, sudah ada suster yang berdatangan dan bersiap-siap melaksanakan tugas masing-masing. Saya mendapat antrian nomer 10. Masih tetap menunggu lama, tapi tidak selama PCR yang sebelum-sebelumnya.

Lalu saya bergegas ke radiologi. Aman. Masih sepi. Ini kali ke 4 saya cek thorax. Sudah hafal semua prosedur yang harus dilakukan. Setelah selesai, lalu saya ke lab. Ada beberapa orang yang menunggu disana. Saya bertemu dengan Eko dan istrinya, teman gereja yang juga terpapar di saat yang hampir bersamaan. Sejak pandemi, bertemu dengan teman itu adalah sesuatu yang menyenangkan, apalagi bertemu sesama penyintas Covid serasa bertemu sesama alumnus. We do have something in common.

Petugas yang mengambil darah pagi itu seorang pria yang pernah mengambil darah saya beberapa waktu yang lalu. Seperti biasa, saya diminta untuk menggenggam telapak tangan sementara dia menepuk-nepuk lengan saya untuk mencari pembuluh darah yang nyaris tidak kelihatan dari sisi mana pun. Akhirnya dia putuskan untuk mengambil dari lengan siku kanan.

“Maaf ini akan sedikit sakit ya bu, tarik nafas panjang, ….. “

Biasanya setelah darah mengalir, petugas akan menyuruh saya untuk relaks dan melepaskan genggaman. Namun kali ini beliau masih mencoba menggerak-gerakkan jarum sedikit ke kanan, kiri, tusuk lebih dalam, tarik, belok…. tidak berhasil. Akhirnya dia mencabut jarum dari lengan saya.

“Maaf ibu, ini tidak bisa keluar darahnya. saya coba di lengan satunya ya.”

“apa saya minum dulu aja gimana? saya bawa minum satu botol mau saya habiskan dulu”

Saya mulai deg-degan. Kok bisa gak keluar ya? apakah darah saya terlalu kental? padahal tadi sudah minum di hotel dan cukup banyak.

Saya keluar dari ruangan. Saya duduk di pojok ruang tunggu dan meminum sebotol air mineral yang saya bawa. Saya atur nafas saya agar lebih tenang. Lalu saya pergi ke toilet. Panik ga, panik ga, panik ga??? Lumayan panik. Saya coba menenangkan diri. Saya harus fokus agar pengambilan darah bisa berhasil hari ini. Lalu saya teringat, apakah karena saya belum minum pengencer darah sehingga darahnya terlalu kental? Tapi jadwal minum obat pengencer darah itu nanti jam 12 setelah makan. Ah tapi sewaktu ddimer saya meningkat pun, proses pengambilan darah berjalan lancar. Jadi sepertinya bukan itu masalahnya.

Setelah kondisi saya cukup tenang, saya kembali ke ruangan tindakan.

“Mas, saya sudah minum sebotol, bisa dicoba lagi ya.”

Lalu lengan kiri mulai ditusuk, dan sama juga, hanya keluar sedikit lalu berhenti. Darah yang keluar seperti tersendat. Petugas tersebut menarik sedikit jarum kecil itu, lalu menusukkan lagi ke arah yang berbeda. Persis seperti yang dia lakukan di lengan kanan saya. Tidak berhasil hingga akhirnya petugas tersebut mencabut jarum dari lengan kiri saya.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berkata,”Ibu, boleh saya coba sekali lagi mungkin di balik telapak tangan ibu?”

“Iya gapapa Mas”

Kali ini pun tidak berhasil. Hasilnya sama. Sudah 3 jarum dipakai dan semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Padahal jarum yang dipakai jarum yang kecil.

“Ibu kalau mau makan dulu, atau nanti siang kembali kesini gapapa bu.”

Saya WA teman dokter saya menceritakan apa yang terjadi. Dia bilang, tidak mungkin kalau gara-gara pengentalan darah lalu tidak berhasil diambil darahnya, karena dia sendiri pernah mengalami Ddimer sampai tinggi sekali dan bisa diambil darahnya dengan mudah. Dugaan dia, tadi jarumnya yang kurang pas mengenai sasaran.

Saya turun ke lantai bawah sambil berpikir apakah saya perlu menunggu di rumah sakit untuk kembali diambil darah, atau saya kembali ke hotel dulu lalu balik lagi sore. Saya tidak menyukai kedua ide tersebut karena sudah agak trauma ditusuk 3x hari ini. Sebaiknya saya kembali besok saja.

Saya menuju ke toko roti untuk membeli beberapa cemilan. Rasanya senang sekali bisa kembali berbelanja tanpa takut menulari atau terpapar. Karena ‘lapar mata’ saya membeli beberapa snack kesukaan saya. Lalu saya membeli Nasi Ayam Gepuk yang dibungkus daun juga untuk makan siang nanti. Melewati kios Cincau, saya membeli segelas cincau herbal tanpa santan untuk diminum di perjalanan. Partyyyyyy!!

Sebelum ke parkiran, saya mampir lagi ke lab untuk menginfokan susternya bahwa saya akan kembali besok untuk pengambilan darah.

Sesampainya di hotel, ternyata sudah ada kiriman dari Stacey lagi. Makan siang komplit dengan minuman. Meski sudah lapar, saya sempatkan berjemur sebentar. Sudah jam 11 siang, tapi saya tidak mau melewatkan berjemur untuk terakhir kali sebelum besok pulang. Saya foto lagi pemandangan dari rooftop, padahal sudah banyak sekali foto pemandangan seperti itu selama saya isoman. Setelah itu, saya mandi, keramas lalu lesehan sambil menikmati Nasi Ayam Gepuk yang saya beli tadi. Hari ini boleh makan banyak karena diet selalu dimulai esok hari.

Tidak lama ada kiriman juga dari Yosi, Nasi Kuning lengkap dengan lauknya dan berbagai cemilan, yoghurt, buah-buahan dan susu beruang. Meriah sudah situasi di kamar. Antara bingung dan bahagia banyak yang memperhatikan. Tenanglah kawan, saya tidak akan mengecewakan kalian…. makanan ini akan saya habiskan wkwkwkwk…. Saya pilih-pilih mana yang harus dimakan segera dan bisa dimakan nanti atau bahkan besok.

Seharian menunggu hasil PCR rasanya seperti menunggu hasil ujian, padahal saya tahu, hasil PCR baru akan keluar besok pagi.

Siang ini saya menelepon anak-anak lagi. Saya tidak katakan kapan akan pulang, karena memang kalau hasil PCR masih positif, saya akan lanjut isoman. Tapi saya sungguh berharap hasilnya sudah negatif.

“Niel, kalo mama pulang seneng ga?” (ini pertanyaan ibu yang insecure wkwkwk)

“seneng lah”

“kenapa kok seneng?” (perlu konfirmasi bahwa kehadiran saya diharapkan)

“soalnya kalau ada mama, Nielsen ga bingung pas recess sama lunch mau makan apa”

Deg… saya sedih banget mendengarnya. Meski mereka terlihat baik-baik saja, tentunya kehadiran seorang Mama pasti sangat berdampak. Baik Nak… Mama besok pulang. Tunggu ya sayang….

Saya mulai ngepak barang-barang lagi. Yang tidak perlu dibawa pulang harus saya relakan. Biasanya botol kaca bekas minuman sarang burung saya simpan untuk wadah di rumah. Tapi kali ini, harus saya relakan karena sudah terlalu banyak barang juga di rumah. Setelah saya kumpulkan barang-barang tersebut, saya cukup terkejut karena ketika saya cek in, saya hanya membawa 1 koper, 1 ransel, 1 container berisi peralatan makan dan 1 tas berisi laptop. Sekarang barang-barang sudah berkembang menjadi sangat banyak.

Hari ini terakhir menikmati suasana dan pemandangan yang saya lihat selama 23 hari saya berada di kamar ini. Pemandangan dari tempat tidur saya ke arah kanan, genteng hijau itu dan rumah kecil berwarna tosca yang ternyata adalah pos pintu ke sekolah Loyola. Pemandangan dari jendela yang sama, apabila saya duduk tepat di depannya, dapat melihat hotel Tentrem dengan keindahan lampunya di waktu senja. Pemandangan dari jendela yang sama melihat kanvas luas milik Sang Pencipta. Pemandangan dari jendela yang sama melihat burung-burung terbang bersama, dalam formasi yang simetris dan kecepatan yang sama. Hal-hal kecil yang dulu tidak saya perhatikan, sekarang menjadi sesuatu yang saya kagumi. Semuanya saya abadikan untuk dikenang suatu saat nanti, sesuatu yang tak akan terulang kembali.

Saya kembali menikmati sunset di rooftop, for the last time…. tak henti-hentinya saya kagum akan fenomena ini. Betapa tidak, seolah sang surya mengerti dimana dia harus pergi. Tempat yang sama, jam yang hampir sama setiap hari. Pujian pengagungan pun terucap…. “ku kagum, hormat akan Engkau…. “

Menjelang jam makan malam, datang lagi sebuah kiriman….. dari Sis Lisa yang cantik jelita. Dia mengirimkan yang sehat-sehat berupa Salad Roll dan Croissant. Both are my favorites, but how can I fit them in my tummy? Thank you Lisa.

Hingga jam 7 belum ada kabar tentang hasil PCR. Mami menelepon dan kali ini kami berbicara panjang lebar. Saya mensharingkan apa yang saya dapatkan selama isoman ini. Meski hari-hari sebelumnya kami selalu saling menyapa, namun baru kali ini saya bisa mencurahkan isi hati saya dengan lega. Sambil sesekali saya menangis, saya katakan kalau saya sangat bahagia bisa melewati covid ini, saya bersyukur bisa diberi kesempatan lagi. Di kesempatan isoman ini juga saya bisa terkonek kembali dengan Tuhan, dan ‘membereskan’ hal-hal yang masih mengganjal, kepahitan-kepahitan yang secara tidak sadar banyak terpendam, sudah saya serahkan semuanya di kaki Tuhan. Saya ingin pulang dengan hati yang ringan, menemui suami dan anak-anak yang sudah merindukan. Peila yang baru akan pulang.

Setelah selesai sesi curhat panjang lebar, saya mendapat WA dari Grace.

“ciii congrats uda negatieveee”

Meski belum melihat hasil hitam di atas putih, tapi saya percaya berita ini, karena berasal dari sumber yang dapat dipercaya wkwkwk…. Senangnya seperti mendapat lotre! I’m going home.

Dear Ps Budi and Ci Nany,
Hasil PCR sudah negative. Iam going home tomorrow. Thank you for your support and prayer. 🥰
#staycationisover #23dayswithJesus

Much love,
Peila

Begitu template yang saya buat dan saya kirimkan pada teman-teman yang selama ini sudah mendoakan dan mensupport saya.

Saya informasikan pada suami rencana untuk esok hari. Saya minta agar dia tidak beritahu anak-anak karena saya ingin memberikan surprise kepada mereka. Saya minta suami untuk menyiapkan handuk dan pakaian bersih di kamar mandi belakang karena saya mandi terlebih dahulu sebelum bertemu anak-anak.

Saya informasikan juga ke admin hotel bahwa besok saya jadi cek out. Lalu saya menelepon rumah sakit untuk membuat janji dengan Dr Indra. Saya pikir, ingin konsultasikan hasil Xray dan lab terakhir kali. Namun suster info bahwa pendaftaran untuk besok sudah penuh, tapi saya bisa langsung datang dan ambil nomor di tempat. Baiklah, besok saya akan datang pagi-pagi lagi.

Di group mami internasional, Helen berpesan,”Pulanggg jangan lupa macak sek cikk”

“Pulang mandi di kamar mandi mbak sek 🤣”

“Jangan kayak org sakitt … kudu ketok segerrr. Jd org rmh liat ga wedi. Pokok e kudu ketok ayuuu” (Jangan seperti orang sakit, harus terlihat segar, jadi orang rumah tidak takut. Pokoknya harus kelihatan cantik)

Mezbah Doa malam ini sungguh saya hayati dengan sungguh-sungguh. Terharu biru mengingat kembali momen-momen saya masuk ke kamar ini, dalam kondisi demam, ct hanya 12, dan mengalami masa-masa yang berat hingga sekarang saya bisa pulang dalam kondisi sehat. Saya tahu ini bukan kebetulan, ini adalah mujizat. Dan saya tidak pernah merasa sendiri disini, meskipun dinamai “isolasi mandiri” tapi saya ditemani oleh keluarga dan sahabat yang perduli. Selain suami yang memantau lewat CCTV, saya tahu pasti……. that God is watching over me.

Saya panjatkan sebuah doa permohonan untuk sahabat tercinta, Itax, yang sedang berjuang. God be with you Sis.

#23dayswithJesus #mycovidjourney

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 16)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Jumat, 2 Juli 2021 – Hari ke 21

Pagi-pagi Itax sudah lapor di group kalau dia lemes karena kesentor AC semalam sehingga subuh jam 3 dia bangun dan muntah-muntah. Meski demikian, Itax bertekad kalau hari ini dia harus makan Indomie gara-gara dia melihat postingan Tania makan Indomie beberapa hari yang lalu. Saya paham sekali sis… Memang Indomie ini formulanya sangat pas di lidah dan selalu bikin ngiler.

Pagi ini titipan saya berupa ember, gantungan baju, barbel dan abs roller sudah sampai. Rempong ya? Isoman ribet amat bawa segala macam barang, padahal mungkin beberapa hari lagi saya sudah bisa pulang. Masalahnya, saya takut bosan kalau tidak ada kegiatan.

Saya cuci pakaian dalam pakai ember dan gantungan yang tadi dikirim. Entah mengapa saya bahagia bisa nyuci baju lagi hahaha.. naluri ibu rumah tangga sejati. Jemurnya dimana? Kemarin dikasih tips sama Ellen, katanya dia gantung di dalam kamar mandi hingga kering. Kalau versi saya, digantung di kamar mandi sampai airnya sudah tidak menetes lalu siangan saya bawa ke rooftop di jam-jam dimana sudah tidak ada orang yang jemur lagi agar tidak merusak pemandangan.

Sambil mencuci baju, saya rebus dua telur lagi untuk sarapan. Tapi ternyata saya keasikan hingga saya mendengar suara ‘kretek tek tek tek….’ – ternyata air rebusannya habis dan telurnya gosong wkwkkw… Habis sudah persediaan telur di kamar. Untungnya panci tidak apa-apa dan masih berfungsi dengan baik. Thank God masih ada siomay dan pao yang dikirim Stefanie kemarin.

Setelah mencuci, saya mulai olah raga lagi. Selain stretching, saya juga latihan lengan menggunakan barbel dan tone perut buncit ini dengan abs roller. Baru sebentar saja sudah ngos-ngosan lagi. Saya teringat Nadine, seorang teman yang terpapar hampir berbarengan namun sudah mendaki gunung pagi ini. Super sekali Sis!

Saya cerita di group kalau hari ini saya mulai olah raga lagi. Lalu Tania cerita kalau dia juga kemarin mulai olah raga namun setelahnya berasa mual. Kesimpulan, setelah pulih dari Covid dan tubuh berasa ‘enakan’, jangan langsung olah raga yang berat-berat dulu. Kalau bisa, 10 hari bedrest, makan enak, banyak tidur, banyak senang, setelah itu mulai dengan olah raga yang ringan dan bertahap.

Menu siang ini dikirim oleh adik ipar saya Levi yang tinggal di Jakarta. Dia memesankan Nasi Empal Bu Marie milik temannya di sini. Tentu saya suka – habis juga. Thank you Lev.

Siang Itax laporan lagi kalau dia masih pusing dan kalau tiduran malah merasa lebih tertekan sehingga meskipun pusing, dia memilih menyetrika baju dibanding tiduran. Lalu group WA kembali tegang karena ada teman kami, Susan, yang sedang on the way ke Tegal untuk menjemput Papanya karena Mama dan adiknya terpapar Covid. Namun di tengah jalan ternyata dia dikabari kalau Papanya juga positif. Akhirnya dia tidak melanjutkan perjalanannya ke Tegal dan putar balik ke Semarang. Sudah dua minggu hampir tiap hari mendapat kabar seperti ini. Berita dari teman-teman yang kerabatnya atau dirinya terpapar.

Siang ini saya video call dengan anak-anak di rumah. Mereka sedang membuat Mango Smothies. Semenjak ditinggal sendiri, mereka jadi kreatif dan lebih mandiri. Hari itu saya bertanya pada si bungsu yang biasanya selalu cerita-cerita di kelas mengenai apa yang terjadi di sekitarnya.

“Niel, kamu cerita ga ke temen-temen di kelas kalau mama kena covid?”

“Engga”

“kok tumben? Biasanya kamu selalu cerita-cerita sama temen2.”

“Nielsen takut dijauhin temen-temen kalau pada tau mama kena covid”

Gak tahan saya tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali si kecil ini.

Saya menyantap asinan buah yang sejak tadi pagi sudah saya pesan. Mulut rasanya ingin yang segar-segar, karena sejak awal gejala hingga sekarang, rasanya ada selaput di lidah atau di mulut yang membuat saya selalu merasa belum sikat gigi padahal sudah dan bahkan disertai kumur pakai Betadine. Tapi rasa tidak nyaman itu terus ada sepanjang hari sehingga selalu ada keinginan untuk makan yang segar-segar seperti buah atau sesuatu yang dingin.

Sudah terbayang enaknya asinan ini. Dari penampilannya saja sudah bikin ngiler. Tapi ketika saya memakannya, kok rasanya biasa aja ya. Entah indra perasa yang masih belum 100% kembali, atau memang kuah asinannya yang kurang nendang. Ternyata apa yang terlihat nikmat, belum tentu enak.

Berita-berita tentang ‘post covid’ terus berdatangan di WA. Sesuatu yang perlu diwaspadai tentunya. Hasil thorax ketiga yang masih menunjukkan penambahan bercak terus menghantui saya. Bagaimana kalau ternyata bercak itu terus bertambah dan tiba-tiba tanpa saya ketahui menutupi paru-paru seperti cerita-cerita yang saya dengar sebelumnya? Saya teringat seorang teman yang pernah menolong saya sewaktu Nielsen kena penyakit Kawasaki. Namanya Kathryn. Dia berprofesi sebagai dokter di Jepang. Saya belum pernah bertemu face to face dengannya, tapi beberapa kali kami bertegur sapa lewat media sosial.

Saya chat Kathryn via WA. Saya jelaskan kronologisnya, obat-obatan yang sudah saya konsumsi dan saya kirim hasil-hasil test selama ini. Begini analisa beliau.

“Sejak gejala pertama, PCR 12-14 Juni, sampai sekarang sudah lewat 2 minggu. I think you are getting better. Setidaknya sudah lewat masa yang dianggap biasanya kritis untuk jatuh ke severe. Nah, meski masa yang dianggap biasanya mungkin kritis sudah lewat, tapi memang hasil lab sampai balik normal masih butuh waktu dan ya tetap waspada karena D-dimer dan CRP masih cukup tinggi. Rontgen paru sih gak apa ya. Sementara dia sampai titik stagnan. Tidak bertambah banyak tapi belum berkurang. Moga2 setelah ini pelan pelan berkurang. Kalau mau sih sekali cek CT scan paru. But I think gak terlalu perlu kalau tidak ada gejala mengarah ke buruk.”

“Trombosit naik perlu concern ga?”
“Well, menurut aku gak perlu terlalu khawatir soal thrombocyte naik saat ini. Ada kemungkinan ini rebound perjalanan penyakitnya. Biasanya si Covid ini sering diikuti thrombocyte turun meski D-dimer naik. Kamu ini juga sudah dapat obat pengencer darah khan? Selama ini minum, semoga gak ada apa2. Nanti pelan2 D-dimer, CRP balik ,semoga thrombocyte juga balik normal.”

Lebih ayem rasanya setelah ada opinion dari Kathryn. I am in the right track towards recovery. Thanks Kathryn.

Hari ini saya membaca sebuah buku yang saya beli dua tahun yang lalu di acara Treasure Women Conference – JPCC. “Without Rival” by Lisa Bevere. Sudah lama saya tidak membaca buku. Alasannya klasik. Tidak ada waktu. Mumpung sedang banyak waktu, saya akan membacanya.

Biasanya kalau saya membaca buku, saya harus memegang stabilo dan meng-highlight kalimat-kalimat yang saya anggap penting, menginspirasi, ‘yes, I agree’. Namun tidak ada stabilo disini. Jadi, supaya saya bisa fokus dan menghayati, saya baca dengan mengeluarkan suara sambil berlatih kembali pengucapan kata dalam bahasa Inggris. Awalnya geli, seperti sedang kursus bahasa Inggris. Tapi saya berhasil membaca hingga 27 halaman lalu saya berhenti karena haus wkwkwk….

Bahasan di bab pertama cukup menarik buat saya. Penulis menjabarkan tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Di akhir bab ada pertanyaan yang harus saya jawab untuk menganalisa diri. Saya ambil waktu untuk merenung. Saya duduk di pinggir ranjang menghadap genteng bangunan sebelah, pemandangan yang saya lihat setiap hari dan yang saya kagumi.

Sambil merenung, saya melihat betapa indah ciptaan Tuhan. Langit biru yang membentang, burung-burung yang terbang bersamaan membentuk barisan yang simetris dalam kecepatan yang sama. Sungguh menakjubkan.

Saya masih merenung untuk menemukan jawaban ‘siapa diri saya di mata Sang Pencipta?’

Sungguh pertanyaan yang simpel sebetulnya, namun perlu waktu untuk saya menemukan jawabannya. Ketika saya mencoba untuk memejamkan mata dan membuka telinga, muncullah ingatan-ingatan di masa kecil hingga dewasa. Saya tahu Tuhan sedang berbicara, meskipun saya tidak mendengar suaraNya.

Sebuah lagu lama tiba-tiba muncul dalam hati saya. Lagu ini saya dengar pertama kali di gereja saya di Melbourne – Mulgrave Uniting Church. Saya tidak tahu persis tahun berapa, tapi mungkin sekitar tahun 1992 – 1993. Lagu ini seingat saya dinyanyikan duet oleh Kak Ruby & Kak Evie. Lagu ini diambil dari sebuah puisi yang menceritakan tentang seorang pria yang bermimpi sedang berjalan dengan Tuhan di tepi pantai. Dia melihat di langit ada berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dalam setiap peristiwa tersebut, dia melihat ada dua pasang kaki disitu; satu miliknya dan satu lagi milik Tuhan. Ketika dia melihat peristiwa terakhir yang terpampang disana, dia melihat kembali jejak-jejak kaki di peristiwa-peristiwa sebelumnya. Dia menyadari bahwa di beberapa peristiwa, hanya ada satu pasang jejak kaki yang terlihat. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah masa-masa dimana dia mengalami masa-masa tersulit dan terendah dalam hidupnya. Dia sangat penasaran akan hal ini dan tidak tahan untuk menanyakan pada Tuhan.

“Tuhan, Engkau berkata bahwa sekali saya mengikutmu, Engkau berjanji tidak akan meninggalkanku sedetikpun. Tapi aku melihat di masa-masa tersulit dan terendah, hanya ada satu pasang kaki. Aku tidak mengerti, di saat aku sangat membutuhkanMu justru Engkau meninggalkanku”

Lalu Tuhan menjawab:
“Anakku, anakku yang sangat berarti dan berharga, aku mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Di saat engkau berada dalam pencobaan dan penderitaan, ketika engkau hanya melihat satu pasang jejak kaki, saat-saat itulah Aku menggendong kamu.”

Saat itu air mata mengalir. Saya tahu Tuhan sedang berbicara secara pribadi kepada saya melalui lagu ini. Tidakkah engkau percaya Peila…. Aku telah menggendongmu di saat engkau tak mampu, janganlah engkau ragu lagi.

Sebuah perasaan yang teduh dan damai meliputi hati. Tak bisa digambarkan dan dituliskan dalam kata-kata. Hanya dapat dirasakan.

Lalu saya menuliskan di buku diary saya apa yang saya dapatkan di hati saya.

“Peila is God’s precious daughter. So precious that He always give the best for her. So loved that He carried her when she was down.”

“Peila adalah anak perempuan milik Tuhan yang sangat berharga. Sangat berharga sehingga Dia selalu memberikan yang terbaik untuknya. Sangat dikasihi sehingga Dia menggendongnya ketika dia susah/sedih.”

Sore itu suami berada di proyek dekat hotel. Dia hendak mengirimkan kopi yang dibelinya untuk saya. Dia tau saya pecinta kopi. Tapi niat baiknya hari itu terpaksa saya tolak karena jantung masih berdebar-debar dan saya masih harus minum obat. Thank you for thinking of me.

Malam ini saya tiba-tiba ingin makan Bibimbap. Ternyata, sering nonton drakor, selain vibes romantisnya yang terbawa, urusan lidah pun terpengaruh. Sudah menimbang-nimbang antara ramyun atau nasi, akhirnya pilihan jatuh pada nasi. Bibimbap it is.

Setelah beres meminum obat-obat untuk hari ini, saya menunggu beberapa jam untuk meminum obat ramuan China itu. Sambil chat sana sini via WA, tiba-tiba saya melihat ada berita duka datang dari Salatiga. Ps Samuel telah berpulang. Semua terkejut tidak menyangka. Selamat menikmati kemuliaan Tuhan dalam kekekalan, Pastor.

Akhirnya tiba saatnya untuk meminum obat ramuan. Saya siapkan cangkir kecil, lalu menyendokkan 6 sendok takar bubuk obat dan menyeduhnya dengan air panas. Setelah aman untuk diminum saya menyeruputnya. Saya sudah menyiapkan diri untuk merasakan rasa pahit dari minuman yang berwarna coklat pekat ini. Namun apa yang saya rasakan sungguh mengejutkan. Dalam seruputan pertama, rasanya seperti Dark Chocolate drink without sugar. Lalu saya seruput lagi… sama… tidak pahit sama sekali. Akhirnya saya minum sekaligus hingga habis. Enak. Dalam hati saya tidak yakin, ini lidah saya yang masih eror atau memang rasanya seperti ini.

Sebelum tidur saya berpikir sejenak. Rencana untuk beberapa hari ke depan, sesuatu yang belum saya lakukan. Apa gerangan?

Sabtu, 3 Juli 2021 – Hari ke 22

Jam 1 malam terbangun dan tidak bisa tidur lagi….. sudah dicoba dengan berbagai posisi hasilnya nihil. Akhirnya nyicil 2 episode dracin yang baru saya tonton semalam dan tertidur lagi. Amazingly saya bisa terbangun untuk Mezbah Syukur pagi ini.

Pagi-pagi Itax sudah absen setelah semalam dia menghilang di group. Biasanya kalau dipanggil di group dia segera nyahut.

“Kepala sakit ciii. Lg lemes ciiii… Brsan muntah lg 😭😭”

Sejujurnya saya sangat khawatir akan kondisi Itax. Sudah beberapa hari dia merasakan pusing dan mual yang tidak biasa. Awalnya saya pikir akibat kemo-nya. Tapi ternyata ‘masuk angin’ gara-gara kesentor AC semalaman. Saya mengajak teman-teman di group untuk banyak berdoa – hari-hari yang sulit untuk kita semua, agar semua diberi kekuatan untuk menjalaninya. Hanya Tuhan sumber kekuatan kita.

Saya bacakan Mazmur 62:5-8 untuk Itax dalam bahasa Inggris.

Find rest, O my soul, in God alone; my hope comes from him.6 He alone is my rock and my salvation; he is my fortress, I will not be shaken.7 My salvation and my honor depend on God [1] ; he is my mighty rock, my refuge.8 Trust in him at all times, O people; pour out your hearts to him, for God is our refuge. Selah – Psalm 62:5-8

Hanya pada Allah sajad kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 62:6 (62-7) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 62:7 (62-8) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindungankue ialah Allah. 62:8 (62-9) Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat,f curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya;g Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela – Mazmur 62:5-8

Siangnya saya menyantap Nasi Ayam kiriman dari Wina. Dia mengantarnya sendiri kesini. Thank you for thinking of me. Nikmat sekali rasanya.

Magic Pel barusan datang. Segera saya eksekusi. Ternyata memang praktis beneran. Bahan tongkat dan dudukan pelnya sangat halus, bukan yang kasar dan ringkih. Saya coba pake tissue bawaannya yang kering untuk menyapu debu dan rambut yang berceceran di lantai. Sekali pakai langsung buang, tidak pake repot membilas. Tongkatnya sangat fleksible bisa berputar 360 derajat, dan sangat mudah menjangkau seluruh area kolong ranjang. Setelah selesai menyapu debu, lalu saya pakai tissue basah bawaanya juga. Seketika lantai terasa kesat dan bersih. One word to describe this Magic Pel: ‘Satisfying’. Memang beda kalau Made in Japan. Ini review jujur saya terhadap pel ini. Memang tissue bawaannya itu tergolong mahal, apalagi tissue basahnya. Tapi bisa disiasati dengan menggunakan lap microfiber, hanya saja jadi tidak praktis lagi, karena harus dibilas dan dicuci – but I will do it anyway, demi menghemat kas negara.

Malam ini saya pesan Ayam Kalasan Rebus lagi. Saya pesan nasi kongbap, paha – tahu – tempe rebus dan telur dadar. Memang sengaja pesan banyak, sebagian untuk besok pagi pikir saya. Tapi ternyata ketika pesanan saya buka, isinya 3 paha rebus dan 1 potong tahu rebus saja. Saya yakin ini bukan pesanan saya. Pasti tertukar dengan pesanan orang lain. Awalnya saya pikir jangan-jangan tertukar di Reception. Tapi setelah saya cek, mbaknya bilang kalau tidak ada lagi kiriman untuk yang lain. Hanya ada itu saja.

Lalu saya coba cek nota yang ada di kreseknya dan menghubungi nomer telepon yang tercantum disitu. Saya WA dan jelaskan duduk masalahnya. Saya infokan juga kalau saya sedang isoman, jadi saya tidak mungkin memberikan pesanan yang salah ini kembali karena sudah saya buka dan saya pegang. Setelah dicek oleh pemilik restoran, ternyata bapak ojol menerima dua orderan dan dia salah memberikan pesanan. Pemilik restoran menanyakan apakah pesanan saya tetap mau diganti atau bagaimana? Saya bilang tidak usah, saya akan makan ini saja. Tapi saya akan bayar selisih dari orderan orang ini dan orderan saya supaya orang tersebut mendapat pesanan yang benar. Saya yakin orang yang satunya akan komplain karena pesanannya salah dan kurang.

Tidak lama kemudian, bapak ojol telepon saya dengan suara yang penuh kekhawatiran. Dia menjelaskan kalau pesanan yang dikirimnya tertukar. Saya jelaskan kalau saya tidak mungkin memberikan kirimannya kembali karena saya sedang isoman. Mendengar penjelasan saya, bapak ojol malah terdengar tidak suka. Suaranya nyolot dan berkata,’jadi saya harus gimana?’

“Pak ini saya beli aja, nanti bapak ke restonya lagi tadi saya sudah bilang akan saya bayar kekurangannya supaya bapak bisa mengirimkan pesanan yang sesungguhnya kepada orang yang memesan”

“Jadi Ibu kasih uangnya sekarang ke saya?”

“Ga bisa pak, saya sedang isoman, saya ga bisa keluar kesitu, nanti saya transfer saja ke restorannya langsung. Bapak kesana aja ambil pesanan yang benar.”

Tidak ada kata maaf dari bapak itu. Seolah ini semua salah saya wkwkwkwk…. Tak apalah, memang ada orang-orang yang seperti itu di dunia ini, bukan bapak ojol ini saja. Saya tidak kesal dengan insiden ini, karena makan 3 potong ayam tanpa nasi justru lebih sehat kan?

Lalu saya kontak lagi pemilik resto dan menjelaskan bahwa saya akan mentransfer kekurangannya. Saya minta diinfokan berapa yang harus saya transfer dan nomer rekeningnya. Hingga saya selesai makan, pemilik resto ini belum membalas.

Satu jam kemudian saya mendapat WA dari beliau.

“Ya tidak pa” buat bonus. Cepat sembuh 🙏🙏🙏”

“Oh. Terima kasih. Tuhan memberkati.”

“Ya siap. Terima Kasih Banyak 🙏🙏🙏 Tuhan Memberkati juga 😇😇😇”

Saya terharu. Masih banyak orang yang murah hati. Padahal saya sudah bersedia mengganti, tapi pemilik resto ini memilih untuk memberi. Terima kasih Ayam Kalasan Simpang Lima – nanti saya larisi lagi.

Malam ini teko keramik listrik dan topi sudah datang. Semua dalam keadaan baik. Teko langsung dicuci dan dipakai untuk memanaskan air. Topi besok dipakai untuk berjemur. Selalu menyenangkan jika ada barang baru. Siapa yang begitu juga?

Bahan teko ini tebal, halus dan tidak kasar. Barang sesuai dengan foto dan deskripsi. Pemanasnya pun betul terbuat dari keramik. Puas dengan barang ini. Hanya saja….. ketika saya coba untuk menuang isinya ke gelas, selalu tumpah. Jadi yang saya lakukan adalah menuangnya di atas wastafel atau menatakinya dengan tissue terlebih dahulu. Sekian review dari saya.

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 15)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Rabu, 30 Juni 2021 – Hari ke 19

Pagi ini saya bangun sebelum alarm berbunyi lagi. Sepertinya badan saya sudah menyesuaikan diri dengan jam tidur yang baru. Tapi saya merasa ini adalah panggilan untuk berdoa, mendekatkan diri pada Sang Pencipta, di saat kesempatan masih ada.

Bibir terasa sangat kering dan pecah-pecah. Saya segera minum dan mengoleskan lip balm.

Saya cek WA, sudah ada link chanel live streaming Mezbah Syukur Debby Basjir dari mami mertua. Lagu-lagu yang dinyanyikan sangat familiar dan pembahasan firmannya singkat tapi jelas. Saya sangat menikmatinya – bisa saat teduh dengan tenang, tanpa diburu-buru, tanpa takut menggangu siapa-siapa, hanya ada saya dan hadiratNya.

Saya taruh tangan saya di dada dan berdoa agar infeksi di paru-paru segera sembuh karena sudah menginjak hari ke 19 dari awal gejala. Saya sungguh berharap kondisi fisik membaik dalam waktu dekat.

Saya membuat rencana untuk beberapa hari ke depan, karena waktu ‘me time‘ akan segera berakhir dalam waktu dekat. Setelah kemarin konsul dengan dr M, rasanya lebih ayem meskipun harus minum obat lagi. Dua minggu terakhir sudah banyak sekali obat yang masuk, setelah isoman saya berencana untuk detox.

Pagi ini di beberapa group WA beredar video yang membahas tentang waktu yang tepat untuk berjemur. Hal ini sungguh membingungkan karena sudah banyak video-video yang beredar membahas hal ini. Ada yang bilang jam 8 – 10 pagi. Kemarin-kemarin memang saya jemur antara jam 8.30 sampai 9.30. Tapi di video itu dibahas bahwa jam terbaik adalah antara jam 10 – jam 2 siang, the best time jam 12 teng, ketika tidak ada bayangan. Saya akan coba untuk jemur jam 10 hari ini. Kalau jam 12 saya tidak sanggup rasanya.

Sarapan pagi ini telur rebus, kiwi, pisang dan roti sisir. Kok banyak ya? Alasannya selain lapar, biar cepat pulih. Saya ibaratkan di beberapa hari pertama timbul gejala tubuh mengambil posisi ‘defense‘ (pertahanan), lalu beberapa hari kemudian mulai ‘attack‘ (menyerang), dan sekarang waktunya ‘recovery‘ (pemulihan) setelah lelah berperang.

Sambil sarapan, saya dengarkan Youtube “WESTLIFE” – band favorit di masa remaja. Ketauan banget kan angkatan tahun berapa. Saya ikut menyanyi dan merekamnya secara singkat lalu saya bagikan ke group family dan beberapa group teman dekat untuk menunjukkan bahwa saya sudah sehat dan bisa sing along.

Lalu Itax merespon “Kamu bener² menginspirasiku ci peiii.. Sakit tp ga kaya org sakit 👏🏻👏🏻👏🏻”

“Hahahaha. Ya gimana biar gak drop hrs dinikmati dan dijalani. Number one kayanya acceptance itu. Dr awal aku nerimo wes… giliranku gt pikirku”

Pagi ini Itax juga melaporkan kalau dia bisa makan banyak. Senang sekali mendengarnya. Lalu dia mengirimkan lagu yang dia dengarkan pagi ini “bagi Tuhan tak ada yang mustahil, bagi Tuhan tak ada yang mungkin, mujizatNya disediakan bagiku, ku diangkat dan dipulihkanNya.”

Lagu yang sama juga tadi dinyanyikan di Mezbah Syukur. Saya tahu lagu ini sering Itax dengarkan dan telah menjadi pernyataan imannya.

Semalam suami memberi saran untuk mempertimbangkan pindah hotel biar ada suasana baru. Mungkin cari di daerah atas dekat rumah yang ada balkonnya supaya bisa menghirup udara segar. Betul juga idenya. Saya coba cari-cari di Traveloka, sepertinya ada satu yang lumayan. Saya coba cari review nya di mbah Google. Meski ada review yang positif, tapi ada beberapa review negatif dari netizen yang mengatakan mereka ‘diganggu’ di kamarnya… “semalam ada yang buka kamar mandi, padahal pintu kamar mandi dari awal kami cek in sulit untuk dibuka tutup. Awalnya saya kira suami saya, tapi saya lihat suami sedang tidur nyenyak di sebelah saya”

Waduh, kalo pindah kesitu bisa ngedrop lagi deh wkwkwkkw. Akhirnya saya bilang sama suami, tidak jadi pindah hotel dengan alasan karena sudah nyaman disini dan dekat dengan rumah sakit. Saya rencana mau PCR dan cek lab + thorax sekali lagi sebelum saya pulang ke rumah.

Hari terakhir di akhir bulan selalu menjadi hari yang hectic karena saya harus hitung gajian karyawan. Puji Tuhan di masa pandemi bisnis masih bisa bertahan, tanpa harus mengurangi dan merumahkan karyawan. Sesuatu yang harus disyukuri. Bersyukur juga kalau hari ini kondisi sudah lebih segar sehingga dapat fokus dengan baik, meski entah mengapa detak jantung di atas batas normal, sehingga beberapa kali saya harus berbaring sejenak untuk menurunkan detak jantung. Bisa jadi efek dari obat-obatan yang baru diberikan atau terlalu fokus dengan pekerjaan.

Kemarin saya berkenalan dengan istrinya teman suami yang juga sedang isoman disini. Namanya Ellen. Ternyata Ellen juga sudah lama menjadi penghuni di hotel ini. Senangnya dapet teman baru dan bisa saling sharing. Dari Ellen saya baru tahu kalau ternyata di hotel ada layanan cuci pakaian. Per kilo hanya 15 ribu saja. Tadinya saya akan cuci pakaian di rumah sepulangnya dari isoman. Tapi setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya serahkan juga 2 buntelan baju kotor untuk dicuci disini.

Jam 10.30 saya berjemur. Ada 2 orang laki-laki yang sedang mengobrol di tempat yang teduh, mungkin mereka bukan berjemur tapi mau mencari udara segar. Saya menyapa seorang wanita yang juga sedang ada disana. Mungkin dia tamu baru, saya belum pernah melihatnya. Dia mengenakan celana panjang, lengan panjang, topi, kacamata hitam dan sepatu. Sangat kontras dengan saya yang mengenakan babydoll pendek berlengan kutung dan sandal. Dia baru dua hari disini. Ada outbreak Covid di tempat kerjanya yang adalah sebuah kantor cabang sebuah bank ternama, sehingga hampir setengah karyawannya harus isoman. Dia bercerita kalau beberapa bank lain juga mengalami hal yang sama. Sehingga ada sebagian kantor cabang yang terpaksa harus tutup karena kekurangan karyawan. Sebagian terpaksa mendatangkan karyawan dari kantor pusat untuk membantu kegiatan operasional.

Saya membayangkan keadaan di luar sana cukup menegangkan. Sewaktu suami PCR drive through 2 minggu lalu pun antrinya cukup panjang. Bukan hanya disitu saja, dimana-mana tempat PCR penuh. Meski banyak tempat-tempat PCR yang baru, semua antri panjang dan ramai. Jadi memang saat ini kondisi sedang darurat. Dua hari terakhir saya mendapat kabar ada 5 orang teman yang keluarganya terpapar. Mereka mengontak saya untuk bertanya apa yang harus dilakukan di awal.

Terasa sekali bedanya, jemur di bawah jam 10 dan di atas jam 10. Baru 15 menit saja rasanya sudah berkunang-kunang. Besok saya akan kembali jemur di bawah jam 10. Kapok.

Menu makan siang ini Ayam Kalasan Rebus lengkap dengan tahu & tempe rebus, dan nasi Kongbap (ini merk beras yang dicampur biji-bijian sehingga tinggi serat dan katanya lebih sehat). Saya ingat dulu banget pernah makan, dan rasanya seperti Ayam Pop ala Padang, nikmatnya sudah terbayang. Saya pesankan juga 1 porsi untuk suami karena hari itu dia tidak membawa bekal. Jadi kita berdua makan menu yang sama di lokasi yang berbeda ->>> akibat nonton drakor, vibes romantisnya kebawa-bawa wkwkwk.

Hari ini saya tidak beraktifitas banyak selain membersihkan kamar mandi menggunakan sikat yang baru, kiriman dari Jeng Tinah. Meski lantai kamar mandi tidak bisa sampai bersih kinclong, setidaknya sudah tidak licin. Saya bersihkan ala kadarnya, karena ternyata baru sebentar saja saya sudah ngos-ngosan dan keringat keluar seperti habis nge-gym satu jam.

Sisa hari ini saya habiskan dengan menyelesaikan pekerjaan kantor sambil bolak balik berbaring untuk menurunkan detak jantung yang terus berdebar-debar ketika saya duduk.

Sore ini di group agak tegang, karena ada seorang teman yang kita kenal sedang mencari oksigen untuk suaminya. Kami semua membantu mencari info nomer telepon supplier oksigen. Dimana-mana kosong. Setelah beberapa jam kami dikabari katanya sudah aman. Fiuh.

Setelah suasana kembali tenang, tiba-tiba Itax info kalau kepalanya sakit dan dia berasa mual seperti ingin muntah. Teman-teman menyarankan agar dia istirahat dulu dan jangan main hp untuk sementara. Tapi ternyata Itax kembali nimbrung setelah minum Panadol katanya lebih mendingan. Rupanya dia tidak ingin ketinggalan berita, ingin terus bersama kita.

Berita PPKM viral di sosmed. Pemerintah mencanangkan PPKM Jawa – Bali tanggal 3 – 20 Juli. Saya membayangkan memang situasi sudah darurat sehingga pemerintah harus mengambil langkah untuk memutus penyebaran covid yang sudah tidak terkendali ini.

Setelah urusan gajian beres, akhirnya saya bisa beristirahat.

Kamis, 1 Juli 2021 – Hari ke 20

Rutinitas pagi dan malam bertambah; mengikuti Mezbah Syukur dan Mezbah Doa. Pagi-pagi sudah berasa lapar, mungkin karena sekarang saya selesai makan jam 6 malam. Tergoda untuk membuat Indomie, tapi tidak jadi karena ingin selalu mengingat ‘the after taste’ nya – rasa micin menempel seharian.

Situasi di group WA sedikit hectic dan tegang karena Itax hari ini ada jadwal ke rumah sakit untuk kontrol, tapi dia baru menerima berita kalau ada kerabat dekatnya yang diduga terpapar covid.

“Tenang. Kamu urus urusanmu dl Itax. Tenang jangan panik. Pikirkan semuanya baik,” Stacey berusaha menenangkan Itax yang sedang kebingungan.

Sejam kemudian, Itax info di group kalau dia bahagia karena dokter memperbolehkannya makan Indomie yang sudah dia idam-idamkan. Vibes di group pun berubah, dari yang tadinya tegang menjadi relaks dan penuh canda tawa. Tidak dipungkiri, Indomie memang selalu ngangenin. (ayo … siapa yang habis baca ini ke dapur juga bikin Indomie wkwkwk)

Menu siang ini dikirim Bubur oleh Wenny. God is good. Udah kangen Bubur Wa Apuy yang masih belum buka tiba-tiba dikirim bubur lain yang rasanya mirip, padahal saya ga cerita sama Wenny kalau lagi kepingin bubur. Urusan perut aja Tuhan aturin. Thank you Wenny!

Saya teringat November tahun lalu, seorang teman adik saya terkena Covid dan dirawat di Semarang, padahal dia domisili di Pemalang. Dia beserta ayah, kakak dan keponakannya dirawat di kamar isolasi. Saat itu ketika adik saya dari Melbourne menceritakan kalau temannya ini terpapar covid, dia menitipkan agar saya mengirim makanan untuk mereka karena makanan di rumah sakit kurang menggugah selera. Saya paham sekarang, pasien covid yang kehilangan indra perasa, ditambah rasa mual dan demam tentunya nafsu makan pun berkurang, apalagi makanan rumah sakit yang biasanya mementingkan ‘sehat’ daripada ‘rasa’. Saya mengirim makanan beberapa hari hingga mereka sembuh dan bisa pulang kembali ke kotanya. Sebuah sukacita yang luar biasa ketika mendengar sesama kita mendapat kabar gembira. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau sekarang saya ada di posisi yang sama. Banyak teman yang perduli dan perhatian selama saya disini.

Sore ini saya mengikuti kelas yoga online. Jujur, sudah setengah tahun lebih saya tidak olah raga. Awalnya di masa pandemi saya rajin jalan di sekitar rumah. Hampir rutin minimal seminggu 3 kali – antara 3 – 5km. Lumayan kan? Hingga suatu hari, ketika saya sedang berjalan sendirian, saya mendengarkan lagu-lagu lewat spotify. Sengaja saya putar lagu “Praise” yang beatnya agak cepat, agar langkah kaki bisa lebih cepat. Namun tiba-tiba, awan menjadi gelap, dan gerimis pun turun. Padahal rumah saya masih kira-kira 500 meter jauhnya. Dengan gagah dan semangat yang ber-api-api, saya mulai berlari mengikuti irama, padahal kondisi jalanan menurun (orang Sunda bilangnya “mudun”). Jantung berdegup kencang tentunya, tapi saya sangat bangga karena setelah sekian lama, akhirnya saya bisa berlari tanpa berhenti di antara rintik-rintik hujan. Sesampainya di rumah saya selfie dan dengan bangga mengirimkan ke group mami2 internasional foto diri yang basah kuyup. Buat saya, ini sebuah pencapaian.

Namun keesokan harinya, saya terkejut, karena sewaktu saya berusaha bangun dari tempat tidur, seluruh badan sakit seperti habis dianiaya wkwkwk. Meski berhasil duduk, ketika saya menginjakkan kaki, telapak sakit sekali untuk menapak. Ternyata kemarin saya terlalu bersemangat dan badan tidak siap, sehingga melukai jaringan di telapak kaki, sebuah kondisi medis yang dinamakan Plantar Fasciitis dan harus istirahat dari kegiatan ‘jalan kaki’ hingga pulih benar. Sejak saat itulah saya berhenti olah raga.

Kelas yoga yang saya ikuti cukup melelahkan. Meski sudah lama tidak ikut yoga, tapi otot kita memiliki ‘memory’ sehingga gerakan-gerakannya mudah diikuti meski tidak bisa maksimal seperti yang dicontohkan trainernya. Badan terasa capek tentunya, harus atur nafas juga yang baru sebentar sudah ngos-ngosan. Tapi otot-otot yang di stretch memberi sensasi seperti dipijat. Punggung yang selama ini berasa sangat pegal, sewaktu yoga tadi memang berasa tidak nyaman ketika di stretch, tapi gerakan ini sangat membantu memperbaiki postur yang terasa ‘bongkok’ setelah lama tidur tengkurap. Saya berharap, malam ini akan bisa tidur lebih nyenyak.

Makan malam disponsori oleh Stephanie, seorang teman yang sangat berbakat seni. Seolah dia tau saya makan banyak, tak tanggung-tanggung dia mengirim 4 porsi makanan! Ada siomay dan bakpao, ada capcay, dan nasi hainam plus ayam rebus. Saya pisahkan dulu siomay dan bakpao untuk besok pagi (dalam hati bersyukur sekali punya panci baru itu… bisa buat ngukus juga). Lalu saya makan sisanya. Tidak usah bertanya habis atau tidak ya karena jawabannya … HABIS sodara2… namun karena terlalu bersemangat melihat prasmanan malam ini, saya lupa memfotonya.

Kebutuhan jasmani sudah terpenuhi. Makan enak sudah, olah raga sudah. Selanjutnya, mari kita penuhi kebutuhan jiwani dan rohani.

Saya browsing online untuk membeli tongkat pel praktis – Magic Pel – atas rekomendasi Ria. Selama ini kolong ranjang tidak saya pel karena bermodalkan tissue basah tidak bisa menjangkau sampai kesana. Tapi sebenarnya ini hanya alasan, karena sesungguhnya saya hanya ingin belanja – dengan dalih ‘toh nanti bisa saya pakai di rumah juga’.

Selain magic pel, saya juga mencari sebuah teko listrik yang terbuat dari keramik. Alasannya untuk merebus obat ramuan apabila nanti masih diperlukan. Memang untuk merebus obat disarankan menggunakan wadah yang terbuat dari keramik. Saya cari-cari di Tokopedia & Shopee, dan mengecek review para pembeli karena model dan harga sangat beragam sehingga saya bingung pilih yang mana.

Tapi review yang diberikan kebanyakan bukan tentang kegunaan produknya, lebih ke ‘respon penjual, packaging, dan kurir yang mengantar’. Beda sekali dengan review pembeli di Amazon atau website luar negri lainnya. Mereka mereview produk sampai detil sekali dan kebanyakan memang testimoni terkait produk yang dibelinya: kegunaannya dan apa pendapat mereka tentang produk tersebut. Reviewnya pun selalu jujur apa adanya.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya pilih satu buah teko yang memang dibuat khusus untuk merebus obat ramuan. Elemen pemanas di dalamnya pun dari keramik dan ada fitur ‘warm‘ atau ‘hot‘. Setelah saya memilih teko itu, saya coba lihat-lihat toko ini barangkali ada barang lain yang saya perlukan (naluri wanita banget ya alias gak mau rugi). Dan ternyata, meski tidak nyambung dengan teko yang mereka jual, toko ini menjual topi yang saya pikir akan sangat cocok untuk berjemur wkwkwk… (terinspirasi dari wanita yang berjemur kemarin).

Pencapaian malam ini membuat saya bahagia. Beli barang sekaligus 3. Padahal biasanya untuk membeli barang saya perlu waktu berhari-hari untuk memilih – karena terlalu banyak pertimbangan wkwkwk.

Batuk yang masih belum hilang cukup menggangu pikiran saya. Bagaimana bisa tenang di rumah nanti kalau ternyata PCR sudah negatif tapi masih batuk-batuk. Akhirnya saya mempertimbangkan untuk meminum obat ramuan yang dibelikan Alice minggu lalu yang belum saya minum karena banyaknya obat dokter yang harus saya konsumsi. Awal-awal memang saya minum ramuan yang dikirim dari Mega, tapi setelah beberapa hari saya sungkan karena merepotkan dia. Dokter sebetulnya tidak menyarankan untuk mengkonsumsi obat ramuan. Tapi karena sudah banyak testimoni mengenai obat ini saya akan mencoba meminumnya besok, 2 jam setelah semua obat selesai diminum.

Malam itu setelah mengobrol dengan suami dan mami, saya tutup dengan Mezbah Doa bersama Debby Basjir lagi, lalu saya beristirahat. Another day has passed.

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 14)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Senin, 28 Juni 2021 – Hari ke 17

Hari ini jadwal ke rumah sakit untuk cek lab dan thorax lagi. Memilih datang pagi supaya tidak terlalu ramai dan tidak parkir di lantai 5 seperti sebelumnya. Ini kali ke 4 saya ke RS selama isoman. Setelah breakfast telur 2 butir yang direbus pake panci baruuuu…. dan sebuah kiwi, saya bersiap mandi. Kabar baiknya sewaktu bangun tadi, suhu tubuh saya sudah berada di 36.8C. Jadi sudah normal.

Sesampainya di rumah sakit, parkiran masih sepi. Radiologi pun tidak antri. Namun ketika saya memasuki ruang tunggu untuk cek lab, sudah banyak orang disana. Saya mengambil nomor antrian untuk bayar tindakan. Setelah bayar, saya menuju kursi dekat lab untuk menunggu giliran.

Ada seorang tante duduk di kursi roda. Di sebelahnya sebuah tabung oksigen ukuran sedang. Selang terhubung ke hidungnya. Dia sedang telepon. Suaranya tidak pelan, sehingga saya bisa mendengarnya dengan jelas, meskipun saya duduk kira-kira 6 meter darinya.

“La nek dicopot selange saturasine turun. Kudu di’nggo” – begitulah sepenggal perbincangan yang saya dengar.

Tidak lama, seorang pria paruh baya menerima telepon. Ini lebih keras lagi dari tante yang tadi.

“Halo, he eh… ini aku Om, anake ……. (dia menyebutkan sebuah kedai makanan yang cukup terkenal di kota Semarang) . Kita sekeluarga covid Om, bojoku, mbe anakku loro”

Begitu kata ‘covid’ berkumandang, spontan semua mata memandang. Tapi hanya sebatas memandang, tidak ada perpindahan tempat duduk atau pergerakan lainnya. Kemungkinan semua yang menunggu disitu memang kena covid; bedanya yang lain diam, yang ini ‘pengumuman’.

Saya duduk di pojokan sambil tersenyum-senyum geli dan laporan di group tentang apa yang saya saksikan. Cukup entertaining memang, karena pria ini menelepon cukup lama. Sepertinya dia meminta resep obat ramuan pada seorang sinshe di luar kota.

Akhirnya giliran saya tiba. Suster yang bertugas pagi ini seorang wanita. Kelihatannya dia sudah mahir. Saya katakan kalau beberapa kali darah diambil di punggung telapak tangan karena pembuluh sulit ditemukan di bagian lengan. Namun suster ini tidak langsung menyerah. Dia masih berusaha menepuk-nepuk di dekat siku dalam. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil di siku kanan.

“disini ya bu, agak sakit sedikit, tarik nafassssss… lepaskan genggaman.”

Benar dugaan saya. Suster ini mahir. Sekali coblos langsung dapat.

Setelah selesai, saya tergoda untuk ke area bawah, karena disitu ada beberapa toko, cafe dan toko roti. Sudah beberapa hari terakhir saya terbayang-bayang makan roti tawar diberi butter dan ditabur meses. Tapi niat itu saya urungkan karena di bawah sudah banyak orang. Akhirnya saya langsung ke parkiran.

Sesampainya di hotel, sudah ada kiriman dari Ling2, teman lama yang saya kenal ketika kami masih di Melbourne. Kemarin Ling2 tanya, mau dikirim apa? Saya sungkan, tapi ga boleh nolak rejeki kan. Akhirnya saya bilang terus terang kalau beberapa kali pesan KFC di cancel terus sama ojolnya. Dan hari ini Ling2 mengantar sendiri ke hotel – Nasi putih dan 2 paha plus cream sup dan Coca Cola.

Meski sudah lapar, prokes harus tetap dijalankan. Pulang dari rs berasa bawa virus banyak nempel-nempel di badan. Mandi, keramas, sikat gigi, kumur-kumur, siap makan.

Makan siang itu sangat istimewa. Betapa tidak, KFC sudah menjadi favorit sejak saya kecil – dan saya bisa pastikan tidak ada orang yang tidak suka KFC, kecuali orang itu vegetarian. Sejak ada yoga mat, saya selalu makan di lantai. Entah kenapa rasanya lebih nikmat.

Yang pertama saya santap adalah supnya dulu. Lalu nasi yang pulen itu berpadu dengan daging ayam yang juicy dan rasanya menawan hati. Enak banget. Tidak ada rasa yang hilang. Thank you Ling – ngidamku kesampaian.

Saya mengirimkan foto KFC itu ke anak-anak. Lalu mereka membalasnya dengan foto nasi dan omelet yang mereka buat. Tak apa Nak, dulu mama juga sering makan nasi dengan telur saja. Yang penting kita bisa menikmatinya.

Sambil nunggu hasil rontgen dan lab, saya tiduran. Sejak nafsu makan dan indra perasa kembali, saya jadi makan banyak. Dalam hati saya menebak, jangan-jangan sudah naik lagi timbangan. Tapi diet selalu mulai besok kan?

Di group WA, Susan cerita kalau ada ipar temennya yang meninggal karena covid. Padahal tidak ada komorbid dan sehat tapi saturasi turun terus. Awalnya karena sejak badan merasa ga enak, dibiarkan bahkan masuk kerja – tidak mau swab, lalu sesak dan tidak mendapat bantuan oksigen karena habis.

Terus terang tiap kali denger berita seperti ini saya jadi was-was, karena dulu-dulu yang terkena covid hingga tak tertolong saya selalu dengar karena ada komorbid. Tapi akhir-akhir ini yang muda dan sehat pun banyak yang tak tertolong dengan berbagai faktor.

Apa mungkin ketauannya telat? Atau tidak mau makan sehingga imun menurun? Atau mungkin pikiran? Karena pikiran sangat besar pengaruhnya pada proses penyembuhan. Saya mengingatkan diri lagi, “ayo ingat ayat ‘semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Issue lain yang sedang beredar adalah selain rumah sakit yang penuh, tempat kremasi juga penuh sehingga banyak yang harus mengkremasi anggota keluarganya di luar kota. Status darurat dan siaga. Tidak pernah sepanjang hidup saya berada di kondisi dan situasi seperti ini sebelumnya. Kita berada dalam sejarah pandemi yang katanya terjadi setiap 100 tahun sekali.

Berbagai usaha diupayakan, dari pake masker, cuci tangan dan menjaga jarak serta membatasi kegiatan di luar rumah. Tapi ketika tidak bisa dihindari lagi, apa yang harus dilakukan? Karena virus terus menyerang seiring dengan berjalannya waktu. Timing is critical.

Istilah-istilah yang dulu jarang atau bahkan belum pernah kita dengar sebagai orang awam, sekarang menjadi istilah yang umum yang hampir setiap hari kita baca. Saturasi, oximeter, swab, antigen, PCR, CT value, donor plasma, badai sitokin sudah menjadi sangat familiar.

Vitamin D yang dulu jarang terdengar, sekarang semua orang mulai mencarinya. Saya teringat waktu hamil si bungsu, dokter kandungan di Melbourne menambah dosis Vitamin D untuk saya, karena setelah di tes ternyata nilainya kurang. Dan sewaktu si bungsu baru berusia 2 hari, dia langsung mendapatkan Vitamin D dosis tinggi (50,000 units) secara oral. Keterangan ini ditempel di cover ‘buku biru’ nya Nielsen sehingga saya teringat terus akan hal ini. Buku biru itu diberikan untuk setiap bayi yang lahir dan mencatat semua hal yang berhubungan dengan kesehatan anak serta data tumbuh kembangnya. Mirip seperti buku servis mobil istilahnya.

Kalau dulu yang dijemur hanya baju dan bayi yang baru lahir, sekarang orang dewasa pun disarankan untuk berjemur. Di awal pandemi saya rajin sekali berjemur – lama pula, hingga akhirnya kerajinan itu lama-lama berkurang ketika lambat laun kulit berubah warna.

Hari ini ada kiriman dari Meme, teman pertama yang saya kenal di playgroup tempat anak kami sekolah. Kemarin Meme chat saya dengan sangat hati-hati menanyakan bahwa dia mendengar dari orang kalau saya positif. Saya membenarkan berita itu. Dan hari ini dia mengirimkan sup ayam herbal buatannya, disertai surat cinta tentunya. Saya terharu, Meme memasak itu spesial untuk saya, tanpa totole, micin dan sejenisnya. Dia masih ingat kalau saya suka “healthy food”. Dia tidak tahu kalau siangnya saya baru makan junk food wkwkkwkwkwkw…. But thank you Me for remembering me sebagai orang yang suka makanan sehat.

Saya ingat waktu di TK, saya membawakan Nicholas bekal sayuran yang dikukus tanpa diberi bumbu apa pun. Plain, just as it is. Mami-mami lain terheran-heran karena pertama, Nicholas suka, kedua, kok saya tega. Memang sejak saya hamil, saya mengadopsi cara-cara dan panduan dari negeri sebrang – Western style. Sehingga dari jenis dan tahap makanan yang saya berikan saya ikuti panduan dari berbagai website dan buku resep luar negri. Secara rasa tentunya lebih ‘hambar’ menurut ukuran orang Indonesia yang sukanya gurih dan tasty, tapi makanan yang direkomendasikan menurut saya lebih sehat dan alami.

Meski sudah makan KFC dan snacking soup herbal, malamnya saya lapar lagi. Kenikmatan kemarin makan ala Sunda masih terbayang. Setelah scroll atas bawah sana sini, pilihan jatuh pada Ayam Goreng Kampung Kali – my old time favorite. Saya ulangi lagi gaya makan kemarin; duduk di lantai, makan pake tangan dan menikmati. Berapa kalori? Saya tak peduli, itu urusan nanti.

Ternyata bisa menikmati makanan yang kita makan itu sungguh sebuah anugrah, benar kata Pengkotbah 3.

"Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah."

Bayangkan bila kita mampu membeli makanan terenak dan termahal sekalipun, tapi tidak bisa menikmatinya, bukankah itu sia-sia?

Hasil lab dan thorax yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. In summary: trombosit meningkat di atas nilai rujukan, ddimer dan CRP membaik, bercak di paru bertambah.

Saya tidak tahu apakah trombosit meningkat is good or bad. Karena seingat saya, ketika Nielsen kena kawasaki, trombositnya meningkat juga dan melebihi nilai rujukan. Dalam kasus Nielsen, it was a bad sign. Hasil thorak ‘bercak bertambah’ membuat saya sedikit panik. Ada apa gerangan, kok tidak berkurang?

Saya chat ko Lie Kuang lagi. Saya ingat waktu dia terpapar ada masalah dengan trombosit juga.

“Koh LK, wkt dulu trombositnya tinggi ya?”

“aku malah kaya org dbd, dibawah normal”

Selama saturasi masih bagus seharusnya saya tidak perlu khawatir, begitu kata ko LK.

Saya googling lagi. Trombosit tinggi pada covid – lalu keluarlah beberapa artikel yang membahas soal itu. Saya tidak mau berspekulasi, lebih baik konsultasi pada yang ahli.

Saya telepon RS dan mendaftar untuk konsultasi dengan dr M lagi. Meski minggu lalu dr M bilang untuk kontrol dua minggu atau bahkan sebulan lagi, namun hasil lab dan thorax yang saya terima hari ini membuat saya resah. Kenapa bercak masih bertambah? tidak bisakah dokter yang menganalisa menuliskan “kesan” yang lebih baik? Karena kalau saya lihat hasil xray nya terus terang saya bingung yang dimaksud bercak itu mana aja.

Malam ini suami menyuruh saya tes antigen, karena sudah lewat 17 hari dari gejala awal. Tadinya saya malas, karena harus colok hidung lagi. Saya pikir langsung PCR saja nanti. Tapi ternyata banyak juga yang sudah lewat 20 hari, hasil PCR masih positif. Jadi saya coba tes mandiri malam ini. Dan hasilnya sudah negatif. Yay!

Saya infokan di group. Mami-mami pada memberi selamat.

“Yeayyyy sehattt…. Udh siap2 balik rmh blm ci? Apa msh mau staycation 🤭😂”

“Br perpanjang 3 hr ke depan lg 🤣”

Saya tidak mau buru-buru pulang. Pertimbangannya… batuk masih cukup sering meski tidak separah kemarin-kemarin. Tapi rasanya masih belum pede untuk pulang rumah.

Malam itu saya berusaha menenangkan diri. Mengapa saya khawatir lagi? Bukankah saya beriman kalau semua yang terjadi dalam kendali Tuhan?

“Tenanglah hai jiwaku” – saya perkatakan itu supaya telinga mendengar.

Saya berlutut dan memohon ampun karena masih ada keraguan.

Hanya dekat Allah saja kiranya aku tenang.

Selasa, 29 Juni 2021, Hari ke 18

Pagi ini saya menyempatkan diri untuk jemur sebelum ke rumah sakit karena kemarin saya skip. Pagi itu langit sangat biru dan bersih. Pemandangan yang menyejukkan mata. Lalu saya bergegas ke rumah sakit supaya tidak kesiangan dan antri terlalu lama. Ini kali ke 5 saya ke rumah sakit dalam 18 hari terakhir. Sebuah destinasi yang tidak menyenangkan tentunya.

Kondisi ruang tunggu dr M tidak terlalu ramai. Saya menunggu di pojokan. Tidak lama datanglah 3 orang bapak-bapak yang mendorong ayahnya yang duduk di kursi roda. Kondisi sang ayah cukup parah, batuk2 dan terlihat lemas. Mereka menanyakan suster bagaimana caranya agar mendapat kamar untuk opname, karena antrian di UGD masih panjang. Bapak yang satu terlihat sibuk menelepon sana sini dengan topik yang sama, cari kamar.

Saya memutuskan untuk pindah ke kursi yang lebih dekat dengan ruang praktek dokter, menghindari keramaian. Lalu tidak lama suster memanggil saya untuk pengecekan rutin. Suster memeriksa tekanan darah, saturasi, suhu dan berat badan. Semuanya normal, dan ketika saya ditimbang pun beratnya masih sama dengan sebelumnya. Artinya belum ada kenaikan seiring dengan bertambahnya nafsu makan. One good news!

Akhirnya giliran saya tiba. Saya memasuki ruangan dokter. Dejavu!

“Halo dok”

“Halo gimana ada yang bisa saya bantu”

“Ini saya kemarin cek thorax sama lab lagi dok. Soalnya kan saya masih batuk dan kadang masih demam. Hari ini sih tadi pagi sudah normal suhunya, tapi kadang kalau malam naik lagi sampe 37.5 an kira-kira.”

Lalu saya memberikan hasil thorax 1-2-3 dan dokter memasang di lampu sehingga ketiganya dengan mudah bisa dibandingkan.

“hm.. ya ini memang ada penambahan bercak. Jadi kalau covid itu ya jalan terus tapi nanti lama-lama hilang kok. Beberapa minggu lagi, atau bisa berbulan-bulan nanti bersih lagi”

“kalau dari hasil lab dok, itu trombositnya kan naik ya, apakah harus concern?”

Lalu saya terbatuk.

“nah dok, sekarang batuknya udah gak sering banget, tapi masih ada, trus seperti tadi itu batuknya”

“pengencer darahnya nanti dilanjut aja. kemarin 15mg ya, sekarang saya kasih 30mg. sama nanti saya resepkan antibiotik lagi karena sepertinya masih ada infeksi ya. lalu saya kasih lagi obat batuknya.”

“oiya dok, sekarang nafsu makan saya sudah kembali, saya sudah bisa makan banyak dok. dan jadi laperan sekarang, padahal obat penambah nafsu makan yang dokter resepin kemarin belum saya makan lho.”

“hahaha… bagus dong kalau sudah bisa makan banyak. itu obatnya disimpan aja, nanti barangkali ada yang perlu atau buat jaga-jaga di rumah”

“trus dok kalau untuk isoman itu sebaiknya selesainya kapan ya? soalnya saya kan ini udah lewat dari 14 hari sebetulnya, tapi gejala masih ada nih. batuk sama demam, jadi saya masih belum berani pulang karena saya takut masih menularkan, di rumah ada mertua dan anak-anak juga.”

“kalau saya pribadi isoman bakal sebulan… atau kalau misal ga bisa sebulan ya minimal 3 minggu lah. soalnya kan kita juga ga tau sebetulnya itu virus masih menular atau engga, tapi untuk amannya kalau saya sebulan.”

Glek…. saya tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya wkwkwk…

“trus kalau PCR itu sebaiknya kapan ya? semalam sih saya sudah cek antigen sendiri, hasilnya udah negatif”

“kalau sekarang mungkin masih positif, sebaiknya tunggu beberapa hari lagi, soalnya kan mahal ya, sayang kalau buru-buru’

Setelah selesai, saya mengambil resep di counter depan. Kali ini saya bilang sama susternya mau beli di luar saja, kapok antri di farmasi.

Sewaktu saya melewati farmasi, saya berubah pikiran. Ngapain harus beli diluar, disini aja sekalian, di luaran belum tentu ada juga. Akhirnya saya masuk ke farmasi yang terlihat tidak seramai sebelumnya dan mengambil nomer antrian. Dari tempat saya duduk terlihat bapak ojol berjejer sedang di counter depan. Saya bergumam dalam hati, ‘ojol-ojol ini sangat membantu di saat pandemi. Mereka yang menjadi asisten kita beli kesana dan kesini. ‘

Sambil menunggu saya cek WA lagi. Stacey info kalau dia mau kirim makanan untuk saya siang ini. Berkat tak terduga selalu mengharukan. Padahal kemarin saya sudah pesan cemilan Bubur Ketan Hitam dan Misoa Goreng hasil dari browsing-browsing instagram.

Satu jam kemudian nomer saya dipanggil. Dan ternyata …. obatnya yang available hanya 1 macam. Lainnya kosong, kecuali saya mau ganti dengan merk lain. Ada rasa kecewa yang mendalam, wah…. sudah nunggu lama, ternyata habis pula. Nyesek rasanya. Akhirnya saya keluar, tidak jadi ambil obat disana.

Karena semalam antigen sudah negatif, saya berani turun ke area bawah. Ingin membeli roti tawar di bakery sana. Tapi ternyata tidak ada. Lalu saya ke super market, mencari cairan pembersih toilet. Sudah 17 hari rasanya perlu di bersihkan karena saya terlalu sungkan untuk meminta petugas hotel membersihkan. Saya mencari sikat wc yang ada tatakannya, tapi disana kosong. Akhirnya saya hanya membeli cairan pembersih dan buah naga, dan berpikir akan membeli sikatnya di Jeng Tinah nanti.

Lalu saya bergegas pulang. Sudah tak sabar ingin makan. Sesampainya di hotel, sudah ada tumpukan kiriman di depan kamar.

Selesai mandi dan bersih-bersih, saya mulai makan. Stacey mengirim 2 main meal, 1 snack dan 1 minuman. Komplit amat, hari ini ditraktir Stacey. Yay!

Selesai makan, ada WA dari Etha, dia mau kirimkan roti sisir Jogja miliknya yang terkenal itu. Saya speechless. Pas lagi ngidam roti, tau-tau ada yang mau kirim. Terima kasih Tuhan, urusan perut aja Kau sediakan. Thank you Etha.

Setelah makan selesai, saya mencari obat yang tadi belum jadi saya beli di rumah sakit. Setelah WA beberapa apotik, akhirnya saya dapat di apotik dekat rumah saya lagi. Dosis pengencer darah yang harusnya 30mg, obat yang available 60mg. Begitu pula dengan antibiotiknya, adanya dosis 500mg. Akhirnya terpaksa saya ambil seadanya karena di mana-mana juga kosong. Saya membeli alat pemotong tablet sekalian. Namun obat racikan yang ada Codein-nya harus dibeli di rumah sakit tadi. Waduh… males banget kalau harus balik ke rumah sakit.

Saya coba telepon ke farmasi rumah sakit tadi dan akhirnya berhasil chat via WA. Ternyata resep asli harus dikirim kesana, baru mereka bisa memprosesnya. Akhirnya saya coba memakai jasa ojol. Beberapa menolak ketika tahu harus mengirimkan resep ke farmasi rumah sakit. Setelah beberapa kali, akhirnya ada yang bersedia.

Resep obat sudah sampai farmasi. Lalu step kedua saya harus menunggu susternya untuk konfirmasi via WA, lalu saya harus transfer dan setelah itu saya harus mencari ojol lagi untuk mengambil obat dari farmasi. Duh ribetnya hahaha…. tapi setelah beberapa jam tektokan di WA akhirnya obat sampai kamar juga. Terima kasih bapak ojol.

Siang itu seperti biasa saya telepon anak-anak. Tidak diangkat. Saya coba lagi nomor satunya. Juga tidak diangkat. Saya cek CCTV, mereka tidak terlihat dimana-mana. Saya mulai panik. Ternyata setelah saya cek lagi, mereka ada di garasi samping. Nielsen sedang belajar main roller blade, mencoba meluncur dari tanjakan, sementara Nicholas berada di level yang lebih rendah siap menangkap dia. Saya menyaksikan sambil teriak2 di kamar dengan jantung deg-deg-an, sekaligus bangga akan kerukunan dan kedekatan mereka berdua.

Hari ini saya terkejut karena dari sekian banyak permohonan donor plasma yang dipasang di status teman-teman WA, ada satu nama yang saya kenal. Liliek Suryani. Namanya sangat familiar, dan contact personnya betul nama suaminya. Saya pikir baru beberapa hari yang lalu saya melihat story IG nya dia sedang liburan di Bali. Biasanya kalau ada yang harus ditransfusi plasma, saya berasumsi gejalanya cukup berat. How can it be? dalam beberapa hari di posisi harus transfusi? Saya terhenyak.

Info tentang Liliek menyebar begitu cepat, di beberapa group sudah tersebar broadcastnya juga. Saya berharap mereka segera mendapatkan plasma yang cocok. Saya dengar sekarang banyak calo di PMI, yang memperjual belikan plasma yang saya kira harusnya gratis. Mungkin kondisi ekonomi di masa pandemi mendesak orang-orang berbuat tanpa hati nurani.

Harga obat yang harusnya hanya beberapa ribu, dijual di luar berlipat-lipat hingga tak masuk akal. Padahal banyak sekali yang sedang sekarat dan membutuhkan. Ternyata teori ‘demand dan supply’ berlaku di sepanjang jaman, tanpa melihat kondisi. Nyesek mendengar beberapa cerita miris gara-gara obat di rs habis dan terpaksa mencari di luaran dengan harga yang tidak terjangkau.

Sore ini ada WA dari Grace. Dua hari yang lalu dia mengabari kalau dia positif. Padahal minggu lalu Grace salah satu orang yang bantu saya mencari info kamar di rs karena dia bekerja disana. Saya terkejut tentunya. Tidak menyangka akan banyak teman seperjuangan di saat bersamaan.

Setelah chatting beberapa kalimat, Grace mengajak video call. Awalnya saya menolak, saya bilang ‘bad hair day’ (baca: kusam, kumal, kucel) Tapi akhirnya kita video call dan berhaha hihi ria, saling tukar info untuk kegiatan isoman. Puji Tuhan dia dalam kondisi stabil, saya tidak terlalu khawatir karena dia seorang dokter dan tentunya sudah bisa menganalisa gejala sendiri.

Malam ini suami menyuruh saya tes antigen lagi – kali ini bukan pakai yang colok hidung, tapi dengan metode air liur. Selain ingin mengkorfirmasi hasil tes kemarin, kami juga ingin tes ke-akuratan media ini. Dan hasilnya sama – negatif.

Saya tidak tahu berapa lama lagi saya harus isoman. Tapi saya tahu, waktu ‘me time’ ini akan segera berakhir dan saya harus menggunakannya dengan baik, karena waktu seperti ini tidak akan datang sering-sering.

Saya tahu masih ada sesuatu yang harus saya selesaikan selama isoman ini. Self healing. Looking forward to it.

#23dayswithJesus

#mycovidjourney

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 13)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Kamis, 24 Juni 2021 – Hari ke 13

Jam 7 kurang sudah ada yang mengetuk pintu. Saya pikir staff hotel yang sedang membersihkan lorong tidak sengaja menyenggol pintu kamar saya. Setiap pagi lorong di lantai 3 memang dibersihkan dan disteril.

Lalu ketukan kedua terdengar lagi.

“siapa ya?”

“Bu ini ada kiriman gojek” – terdengar suara laki-laki di luar sana

“oh, taruh di meja aja pak”

Saya merasa heran karena biasanya reception yang mengantar dan menaruh barang-barang kiriman di meja kecil yang tersedia di depan kamar tidak pernah mengetuk pintu. Biasanya reception akan menginformasikan bahwa kirimannya sudah ditaruh di depan pintu melalui whatsapp.

Saya menunggu hingga bapak itu pergi. Setelah hitungan ke 10, saya membuka pintu. Bayangan saya bapaknya sudah berjalan menuju lift. Tapi ternyata bapak itu masih berdiri di depan pintu sambil membawa kantong plastik. Spontan saya tutup pintunya lagi dan berkata,”taruh disitu saja pak, nanti saya ambil”

Saya yakin bapaknya juga terkejut ketika saya dengan spontan menutup pintunya lagi.

Setelah situasi aman, saya mengambil kiriman tadi. Ah ternyata seporsi Gudeg Abimanyu – kiriman dari Ika, seorang teman yang saya kenal karena anak kami berada di sekolah yang sama sejak Playgroup. Kemarin Ika chat saya dan menanyakan “pingin makan apa ci ? Aku kirim…”

Sebetulnya saya sungkan ketika ditanya begini, tapi katanya tidak boleh menolak rejeki.

“mungkin nasi gudeg abimanyu ” – jawab saya tersipu malu

“Siappppp…. Komplit yaaa… pake koyor? Buat pagi?”

“Iya pake koyor. Tq Ika. Pagi boleh”

Dan taraaaaa pagi ini Gudeg Abimanyu favorit saya sudah berada di depan mata. Ternyata tadi reception sedang tidak ada orang, sehingga pak gojek menitipkannya pada satpam.

Sejak indra perasa saya kembali ‘normal’, sikap saya sewaktu makan menjadi berubah. Kalau dulu saya makan tidak pernah dipikir ini enak atau tidak, hanya makan. Tapi sekarang, setelah mengalami makan tanpa rasa dan tidak nafsu, saya makan dengan penuh ucapan syukur dan berusaha menikmati apa yang saya makan.

Seperti pagi ini, ketika suapan pertama nasi gudeg itu menyentuh lidah, saya cerna rasa nasi yang pulen, sayur gudeg yang manis, rasa koyor yang gurih dan kenyal ketika digigit, semua itu menyatu menjadi perpaduan rasa yang nikmat. Betapa bersyukurnya saya bisa menikmati apa yang saya makan. Nasi gudeg habis tak bersisa.

Pagi ini saturasi di angka 98 dan detak jantung pun normal. Kondisi stabil hanya batuk saja yang masih ada.

Itax lapor kalau semalaman dia tidak bisa tidur akibat sakit perut. Mungkin masih efek dari kemonya itu. Mami-mami lain mulai bermunculan. Selalu seru kalau group ramai – memang benar yang dikatakan orang; Whatsapp itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Di masa pandemi seperti ini, peranan medsos jadi sangat berarti, namun demikian kita harus bisa mengontrol diri.

Bahasan di group sudah beralih, dari bahasan Indomie hingga diskusi berbagai merk vaksin. Beberapa menimbang-nimbang untuk menunda sampai merk tertentu tersedia di Indonesia. Tapi dalam kondisi yang sudah darurat ini, dimana teman-teman dan saudara yang kita kenal sudah terpapar, ada baiknya divaksin dulu apa adanya.

Memang banyak yang masih ragu untuk divaksin oleh karena satu dan lain hal. Saya pribadi di awal sangat ragu karena riwayat autoimun di keluarga. Tapi dari beberapa penelitian memang terbukti bahwa pasien covid yang sudah divaksin mengalami gejala yang lebih ringan dibanding dengan yang belum.

Ngomong-ngomong soal vaksin, saya jadi teringat 10 tahun yang lalu, ketika saya bertanya kepada dokter di Melbourne, issue yang sedang viral di masa itu – vaksin MMR yang disangkut pautkan dengan penyebab autisme di beberapa kasus. Sang dokter tidak menjelaskan panjang lebar, tapi dia meminjamkan setumpuk literature penelitian tentang issue tersebut. Saya pulang membawa PR – membaca dan mencerna penelitian itu berhari-hari. Setelah saya mengerti dan merasa mantap, akhirnya anak saya yang sulung divaksin MMR disana. Itulah yang saya suka dengan cara kerja dokter disana, selalu menjelaskan dengan seksama hingga kita mengerti dan bukan hanya nurut saja.

Cuaca di luar mendung sehingga hari ini tidak bisa berjemur. Ketika saya membuka tirai tadi, saya melihat awan gelap yang menggantung di langit. Sungguh fenomena yang mencekam sekaligus menakjubkan buat saya. Dan dalam hati saya berkata lagi,“I know it’s you, Lord”

Dan tidak lama hujan turun.

Abaikan garis kuning di langit karena itu pantulan lampu ceiling di kamar hotel

Kiriman dari suami sudah datang. Ada sarang burung yang dikirim oleh adik saya Diana & Sandra untuk dikonsumsi selama 12 hari ke depan. Tapi karena disini tidak ada kulkas, jadi suami mengirimkan setiap hari satu. Saya sangat terharu dengan perhatian adik-adik saya. Padahal Diana juga baru saja menjalani operasi besar beberapa hari sebelum Lebaran yang lalu. Puji Tuhan selama ini kami bertujuh rukun-rukun semua, dan di kala salah satu membutuhkan bantuan, kami saling bahu membahu. Thank you my sisters.

Dalam buntelan kiriman hari ini ada yoga mat juga. Saya pikir, masa kritis sudah lewat, tinggal pemulihan dan ada baiknya mulai stretching-stretching badan dan olahraga ringan, supaya tidak kaget nanti keluar dari isoman. Yang dibutuhkan memang si mbok pijet, tapi saat ini sangat tidak memungkinkan.

Pagi ini saya menyapa di group mami-mami ‘internasional’.

“Morning ladies. Pagi ini aku lbh segeran lg dan terasa lapar… 🤣.Tanda2 kesembuhan sudah semakin nyata 🥳🥳🥳”

“Wahhh sippp cikkkk. Tetep Semangattttt ya cik’

“Aminnn aminnn seneng denger nya . Tetep semangat ci pei”

Lalu kegiatan hari itu saya lanjutkan dengan serangkaian rutinitas. Cuaca diluar membuat badan ingin rebahan. Sudah 13 hari terkurung tanpa teman, tapi puji Tuhan saya tidak merasa sendirian. Dan yang terpenting, semangat terus menuju kesembuhan.

Jumat, 25 Juni 2021 – Hari ke 14

Pagi ini saya mau pesan bubur WA Apuy lagi, tapi sejak seminggu yang lalu masih tutup. Scrolling atas bawah, akhirnya pilihan jatuh ke Nasi Campur Kedai Seteran. Enak, kenyang. Satu hal yang saya perhatikan, meskipun indra perasa sudah kembali, makanan sudah terasa nikmat, namun saya masih merasa semua yang saya makan ‘terlalu asin’. Jadi masih ada tastebud yang belum ‘tuned in’.

Ini sudah hari ke 14 sejak saya demam pertama kali. Secara teori biasanya pasien covid isolasi mandiri selama 14 hari dan setelah itu sudah dianggap tidak menular lagi – namun tentunya tidak semua seperti ini. Untuk pasien yang bergejala sedang dan berat pastinya akan lebih lama masa isolasinya.

Selama saya isoman ini, sudah lebih dari 20 teman yang saya kenal baik terpapar di waktu yang bersamaan. Gejalanya memang beragam. Ada yang tanpa gejala, ada yang hilang penciuman dan indra perasa (anosmia), ada yang badannya linu semua, ada yang pusing, ada yang diare, mual-mual, ada juga mengalami paket komplit: demam, batuk, pilek, pusing.

Per hari ini, gejala yang masih tersisa adalah batuk dan demam. Ya, semalam saya demam lagi, tidak setinggi di awal, tapi cukup mengkhawatirkan, suhu 37.3C. Saat ini yang saya rasakan, badan jadi lebih cepat capek. Misalnya saya habis duduk dan mengerjakan kerjaan kantor di depan laptop, lalu saya ke kamar mandi, lalu balik lagi – saya merasa jantung berdebar-debar dan nafas ngos-ngosan seperti habis olah raga. Padahal cuma duduk doang, trus jalan 6 langkah bolak balik, duduk lagi.

Ria, yang cukup paham soal obat-obatan berpendapat, bahwa obat yang diberi oleh dokter spesialis paru ini membuat badan saya terasa enakan; codein, telfast, lameson – ketiganya termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter.

Setelah melahap beberapa judul drama Korea selama isoman, saya akui saya menikmatinya. Melihat para pemerannya yang sedap dipandang secara fisik membuat saya paham mengapa banyak pecinta drakor yang terobsesi untuk ‘permak’ wajah & badan. Meski saya selalu mengingat satu ayat hafalan bahwa ‘manusia melihat rupa, tapi Tuhan melihat hati’, saya terinspirasi untuk memperbaiki diri. (maksudnya merawat diri bukan operasi). Tapi itu tidak mudah, perlu kaca di sekeliling rumah hahahaha.. biar sadar diri maksudnya.

Meski di kamar hotel kegiatan hanya itu-itu saja, waktu tetap berjalan seperti sedia kala. Tidak terasa lebih lambat. Hari cepat berlalu. Dari bangun tidur, tau-tau sudah harus makan siang, lalu setelah beberapa kegiatan, alarm berbunyi mengingatkan untuk makan malam. Setelah makan biasanya saya video call dengan suami dan anak-anak di rumah sebelum mami menelepon.

Hari ini seorang teman lama video call dari Melbourne. Vinny namanya. Dia adalah teman sekaligus tetangga ketika pertama kali saya pindah ke Melbourne tahun 1992. Meski usia kami terpaut cukup jauh, namun kami sangat dekat. Sudah lama kami tidak bersapa ria, kami mengobrol hampir 1 jam.

Jeng Tinah mengirimkan sebuah parcel buah yang sangat cantik. Isinya buah-buahan dengan berbagai jenis. Rupanya hari ini hari ulang tahun pernikahannya. Terima kasih untuk kirimannya. Kamu selalu memberikan yang terbaik. Selamat ya Jeng, Tuhan memberkati.

Sore ini pemandangan di luar jendela sungguh indah. Meski setiap hari yang saya lihat objek yang sama, namun saya tidak pernah bosan. Langit yang luas itu bagaikan sebuah kanvas dan Tuhan lah pelukisnya.

Malam ini saya ingin mencoba makanan yang sudah lama sekali tidak saya makan. Yoshinoya – blackpepper. Meski sudah dicancel oleh ojolnya, tapi karena saya ngidam, saya mencoba untuk memesan lagi dan akhirnya berhasil.

Sudah terbayang enaknya makan daging sapi import yang dipotong tipis-tipis dengan rasa blackpepper yang kuat dibarengi dengan nasi hangat. Tapi ketika saya memakannya, saya terheran-heran dengan rasanya. Kok beda ya? apa memang indra perasa yang masih belum kembali sempurna? rasanya tidak seperti yang saya bayangkan, terlalu asin untuk saya. Tapi karena 1 porsi itu cukup mahal, saya habiskan juga wkwkkw… ingat… saya seorang penyayang.

Malam itu diakhiri dengan drakor “What’s Wrong with Secretary Kim” – sebuah serian lama, namun saya baru melihatnya atas rekomendasi ratu drakor – Vivi (si pemberi kelapa wulung). Saya suka..saya suka… filmnya romantis, pemainnya juga ganteng dan cantik, memberikan suasana hati yang adem, gemas, dan berasa muda lagi, nostalgia ke jaman masih kasmaran dulu.

Sabtu, 26 Juni 2021 – Hari ke 15

Kebiasaan bangun di tengah malam masih terjadi. Tidur tengkurap dan mika miki masih dijalani. Tidak boleh lengah, tidak boleh kecolongan. Meski saturasi sudah meningkat, badan sudah lebih segar, tetap harus waspada. Sudah banyak cerita yang saya dengar soal pasien covid yang drop lagi setelah merasa segar.

Tania bertanya, “Ci pei udah plg rumah?”

“Belum. Aku sdh nyaman disini ye”

“Wakakakakaka gawat bisa enggan pulang. Kondisi badan gimana ci hr ini? Ko Alvin n anak2 aman?”

“Kondisi sih baik. Kmrn demam lg tp sampe 37.5 Ga tau kenapa. Kalo malam suka kebangun gr2 di pikiran bobo hrs miring atau terlungkup. Alvin sm anak2 aman”

“Hiks kok lama ya ci km demam e..”

“Msh ada infeksi kali”

Susan nyeletuk,”Mau pindah ke Tentrem ci? Lebih nyamannnn 😂”

“Justru kalau pindah Tentrem harus cepet-cepet pulang…. bill nya gak tahan wkwkwk.”

Hari ini saya ingin makan makanan Sunda. Kangen masakan di resto Papih di Bandung. Pengen Nasi Timbel dengan lauk gepuk (empal), sambel dadak, karedok dan angeun haseum (sayur asem). Tapi di Semarang saya ga tau cari dimana. Yang paling mirip beli di Super Penyet. Saya ingat disitu sambalnya enak.

Kali ini saya tidak makan di meja. Karena sudah ada yoga mat, saya pakai itu untuk alas. Makan ala Sunda, ngalepo (duduk) di lantai. Makannya pun tidak pakai sendok, langsung pakai tangan. Hm… nikmatnya tiada tara…

Panci yang saya beli online sudah datang. Entah mengapa mendapat barang baru selalu membuat hati senang. Meski yang dipesan merah, yang dikirim biru. Tak apalah, yang penting bisa berfungsi dengan baik. Besok bisa makan telur rebus lagi.

Demam yang muncul lagi membuat hati tidak tenang. Ada apa gerangan? Saya teringat beberapa orang mengalami badai sitokin, yang terus terang istilah itu saya tidak paham. Saya cek mbah Google, lalu lihat ciri2nya. Sepertinya tidak. Tapi saya ingat sekali, sewaktu si bungsu sakit Kawasaki, dokternya berpesan agar suhu terus dipantau selama 2 x 24 jam setelah Immunoglobulin – Gamaraas selesai dimasukkan melalui infus. Dalam dua hari itu, suhu si bungsu tidak kunjung normal. Masih bertengger di atas 37 dan tidak diperbolehkan pulang. Khawatir ada infeksi lain yang harus dituntaskan. Berbagai test dilakukan demi mencari tahu apa yang membuatnya tetap demam. Setelah hasil test semua keluar, akhirnya diputuskan untuk memberikan dosis Immunoglobulin yang kedua.

Kalau dua hari kemarin saya sudah tenang, hari ini hati mulai gusar. Obat yang diberikan oleh dr M spesialis paru sudah habis, yang tersisa hanya vitamin saja.

Senin saya berencana untuk cek lab dan foto thorax lagi karena hasil xray kedua ada penambahan bercak. Saya berharap hasilnya akan lebih baik dari hasil sebelumnya.

Sore ini saya mengikuti Seminar Parenting yang berjudul “LIFE Message in the Teen Years”. Waktu mendaftar di awal bulan, saya sempat berpikir – apakah saya bisa bertahan mengikuti seminar yang cukup lama ini? dari jam 5 hingga jam 9 malam. Tapi topiknya cukup menarik dan saya tau ini investment yang sangat berharga karena berhubungan dengan bagaimana cara menghandle anak-anak yang sudah beranjak remaja. Siapa yang menyangka saya akan mengikutinya sewaktu isoman. Fokus dan penuh penghayatan.

Minggu, 27 Juni 2021 – Hari ke 16

Pagi-pagi bu guru Stacey udah absenin di group.

“Ci Pei, Tania & bu Dewiiii apa kabarnya”

“Kabar baik. Lg nunggu makanan. Td sdh jemur. Besok rontgen dan cek lab lg.”

“Mudahan negatif n bersih semua yaaa. Pdhl ci pei uda terlanjur nyaman disanaa wkwkwk”

Menu siang ini saya pesan sekaligus dua. Saya pikir, harus sedikit hemat nih. Pengeluaran sudah banyak. Biaya hotel, cek lab, konsultasi dokter, obat-obatan, dan makan. Pilihan jatuh ke Kedai Beringin. Kali ini saya coba pesan dessertnya juga. Es Empat Rasa – es campur yang ada mangga mudanya. Ssst jangan bilang-bilang ya. Masih sedikit batuk tapi saya ingin sekali mengecap yang segar-segar.

Setelah makan nasi langgi, saya coba es nya. Meski sudah dicampur air, saya masih merasa esnya terlalu manis. Akhirnya saya makan isi es campurnya saja. Sirupnya saya buang.

Sorenya suami mengirimkan foto anak-anak yang sedang main di rumah. Puji Tuhan setelah 2 minggu berlalu, mereka semua baik-baik saja. Can’t wait to see you boys. Tunggu Mama sehat dulu ya.

#23dayswithJesus

#mycovidjourney

Dua Garis Merah – “My Covid Journey” – (Part 12)


Disclaimer:

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya selama terkena COVID-19. Apa yang saya tulis adalah murni apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya alami. Obat-obatan yang saya konsumsi diresepkan oleh dokter sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Tujuan saya menulis ini untuk membagikan pengalaman saya selama isoman dan memberi semangat kepada para penderita COVID-19 dan berbagi berbagai aktivitas yang saya lakukan serta makanan yang saya konsumsi selama isolasi mandiri 23 hari supaya tidak bosan dan tetap menikmati setiap hari yang Tuhan beri.

Rabu, 23 Juni 2021 – Hari ke 12

Pagi ini saya bangun dengan suhu 36.9 – kemajuan yang signifikan setelah 11 hari demam. Hari ini lebih semangat dan badan lebih segar, apalagi ketika makan sepiring buah-buahan sudah bisa merasakan rasa aslinya. Apel rasa apel, anggur rasa anggur. Penciuman pun sudah kembali sepertinya. Kemarin sewaktu saya memasukkan tissue yang saya beri minyak kayu putih, saya sudah bisa mencium baunya dan merasakan panasnya yang semriwing. Namun saya masih belum bisa mencium bau yang tidak enak. Ketika di toilet misalnya.

Berbeda dengan saya, Itax yang baru menjalani kemo beberapa hari yang lalu, masih merasakan efeknya hingga hari ini; penciuman normal, indra perasa bermasalah sehingga sewaktu memakan buah-buahan pun rasanya hambar. Saya jadi ingat 21 tahun yang lalu ketika Mami menjalani kemo kehilangan nafsu makan, mungkin gara-gara ini juga – semua terasa hambar.

Hari ini hari ke 10 saya tidur di hotel. Kalau di awal saya enggan untuk ‘ngungsi’ dari rumah, tapi setelah disini 10 hari, saya mulai merasa ‘nyaman’… ooopsssss mengapa bisa demikian? Meski ada hari-hari yang harus dilalui karena gejala yang membuat tidak nyaman, namun overall saya menikmati apa yang saya sebut ‘me time’ ini.

Di awal saya memasuki kamar hotel ini, saya sudah men-switch (mengalihkan) otak saya untuk tidak memikirkan hal-hal lain selain fokus pada satu hal yaitu SEMBUH. Urusan makan anak, bekal suami, laundry, bersih-bersih rumah – sudah saya singkirkan untuk sementara waktu – until further notice wkwk. Dan saya ingin menggunakan waktu ini untuk istirahat dari rutinitas; ibaratnya seperti mobil, harus diservis biar mesinnya tetap terawat dan bisa berfungsi dengan baik.

Kalau biasanya saya tidak ada waktu untuk diri sendiri, kali ini 24jam bisa saya pergunakan ‘sak penake dewe’ (semau gue). Jam tidur sesuai standard WHO wkwkwk – 7 jam bahkan bisa tidur siang. Makan teratur, setiap hari jam nya sama terus karena sudah di jadwal. Cemilan buah-buahan saja, jarang makan makanan yang sudah diolah (processed food). Untuk penyegaran jiwa dan roh, saya banyak mendengar renungan, kotbah, pujian – yang biasanya hanya bisa dilakukan sambil masak dan mempersiapkan bekal ke kantor.

Salah satu teman bercerita, kalau ada mama temannya yang isoman sendiri di lantai atas, malah jadi depresi karena dia tidak bermain sosmed, merasa bosan dan lonely. Mungkin bukan hanya tante ini saja yang mengalami hal seperti ini. Mungkin banyak yang tidak bertahan karena ketika diisolasi ada perasaan dibuang, dikucilkan, dijauhi dan lonely.

Saya bersyukur sampai hari ini hal itu tidak terjadi pada saya. Banyak sekali yang menemani dan memberi dukungan. Hal ini perlu dicatat supaya kita bisa berempati dan tau apa yang harus dilakukan ketika teman kita mengalaminya nanti. Dukungan tidak selalu harus mengirim ini dan itu. Dukungan bisa berupa doa dan say hello melalui WA.

Pagi ini saya bikin janji dengan Agnes, pemilik sebuah klinik di Semarang untuk infus vitamin. Itupun setelah saya tanya sana sini; apakah perlu, apakah langsung terasa khasiatnya, gunanya apa, apa bedanya dengan vitamin biasa – karena harganya cukup mahal dan saya merasa sudah tidak selemas hari Minggu kemarin. Tapi supaya tidak penasaran dan berharap akan mempercepat pemulihan, akhirnya saya coba. Agnes mengabari kalau staffnya akan mengunjungi jam 3 nanti.

Suami WA saya.

“Jemurnya 30 mnt lg ya. Aku dr rumah”

“Ga ada matahari. Km ga ush kesini. Ngapain. D lorong ini aja banyak virus”

“Ini mendung tp masih lumayan lah”

“Ga ush kesini. Duh bandel. Nanti kamu terkontaminasi, kasian anak-anak nanti. Aku mau jemur skg mumpung ada matahari. Km ga ush kesini. Nanti mubazir isomanku.”

Lalu saya bersiap ke luar kamar. Saya matikan dulu lampu kamar mandi, matikan air purifier, laptop, lalu saya semprot kamar dengan antibacterial spray.

Sesampainya di rooftop ada 3 orang sedang berjemur. Salah satunya wanita paruh baya yang kemarin bertemu. Saya WA suami lagi, khawatir dia benar-benar kemari.

“Jgn kesini. Di rooftop ada 3 org lg jemur”

Dan tidak lama saya mendengar suara yang saya kenal. Bukan suara manusia. Tapi suara sebuah drone sedang terbang melintas di atas kepala saya.

Tentu saya kaget. Ah rupanya suamiku masih suka memberi surprise….. (setelah lamaaaaaaaa tidak melakukannya wkwkwkwkkw). Saya tidak menyangka bahwa dia akan melihat saya melalui drone. Saya kira dia akan ke rooftop memakai APD wkwkwkwk (ini lebih konyol lagi).

Sewaktu kami pacaran, beberapa kali suami memberikan surprise dengan tiba-tiba datang ke Melbourne tanpa pemberitahuan. Saya teringat di suatu siang, ketika saya sedang di kantor, dia kirim sms (waktu itu belum ada smart phone ya… jadi masih SMS an). Dia bertanya saya sedang apa dan hari ini makan apa. Lalu saya balas, saya tidak bawa bekal hari ini, jadi sebentar lagi saya mau beli lunch di Brandon Park. Dan sesampainya di Brandon Park, di ujung travelator tiba-tiba dia muncul begitu saja, dan saya berteriak – terkejut amat sangat. Well done!

Terus terang saya sungkan sama orang-orang yang sedang berjemur pagi itu. Tumbuh besar di Australia membuat saya sangat memperhatikan yang namanya ‘privacy, courtesy, myob’ (privasi, kesopanan dan myob = mind your own business atau artinya bukan urusan kamu). Saya takut mereka terganggu dengan kehadiran drone yang menggangu privasi karena seolah-olah mau memata-matai. Saya takut mereka malu kalau ada yang tahu mereka terkena covid.

Drone hanya melintas sebentar saja… paling 2 menit dan setelah itu dia pergi untuk kembali pada pemiliknya.

Sebelum drone itu kembali, saya foto dulu untuk kenang-kenangan, agar bisa saya ceritakan di blog saya ini.

Setelah timer berbunyi, saya kembali ke kamar. Hati saya berbunga-bunga. Bener lho, dikangenin suami itu sesuatu banget, sangking udah tiap hari ketemu ya, jadi rasa deg-deg ser seperti waktu pacaran itu sudah jarang sekali. Dan ternyata berpisah beberapa saat membuat kita menyadari arti kehadiran masing-masing. Selalu ada yang bisa disyukuri dalam setiap kondisi. Betul juga kalimat ini.

Saya masuk kamar kembali. Wangi minyak kayu putih masih tersisa dari semprotan saya tadi. Lalu saya berdiam diri dan bersiap untuk mandi. Suami mengirimkan foto saya yang dicapture oleh drone tadi. Kalau tau mau difoto saya pake singlet kaya BCL wkwkkwkw.

Evi, teman saya yang di Kudus itu bertanya,”Ci pei kamu gimana kabarnya?”

“udah bisa nyanyi wkkwkwwk”

Ah senangnya. Tiga hari yang lalu untuk ngomong aja struggle, apalagi nyanyi.

Saya infokan ke group-group lain berita sukacita ini. Tiga hari yang lalu mereka ikut tegang. Membantu cari info sana sini, memberi semangat, mendoakan, membantu apa yang mereka bisa. Mereka harus tau bahwa kondisi saya sudah membaik. Dan obrolan di group pun sudah kembali santai, sudah banyak haha dan hihi.

Eveline mengirimkan satu porsi soto sapi. Biasanya habis jemur memang laper lagi. Setelah indra perasa kembali, rasanya jadi penasaran ingin coba makanan ini itu. Kalau kemarin-kemarin yang dirasa hanya asin, semoga kali ini bisa merasakan rasa micin.

Soto habis, tak bersisa, sampai titik darah penghabisan. Tanda-tanda kesembuhan sudah semakin nyata. Melihat kondisi seperti ini, obat penambah nafsu makan yang diresepkan dokter kemarin sepertinya tidak perlu saya konsumsi. Nafsu makan yang alami sudah kembali.

Saya scroll WA ke bawah, ternyata banyak teman-teman yang WA nya belum saya balas. Lalu saya reply satu per satu. Beberapa mengaku kalau mereka juga pernah terkena covid dan bahkan ada juga yang sama-sama sedang isoman. Kami bertukar info. Selalu menyenangkan bila ada saudara sepenanggungan.

Hari ini dapat kiriman dari Yosi, makan siang dan makan malam dari Wee Nam Kee. Sejak restoran ini dibuka hingga hari ini, saya belum pernah mencobanya. Puji Tuhan nafsu makan sudah benar-benar kembali. Tidak ada rasa mual lagi. Di hari-hari sebelumnya, setiap habis makan, ada rasa mual dan akhirnya keluar lagi, meski sedikit. Hari ini sudah tidak ada rasa mual sama sekali. Dan malamnya saya baru tahu, bahwa hari ini ulang tahun Yosi. Happy birthday Yos, and thank you for a delicious meal.

Sambil menunggu jadwal infus vitamin, saya mencoba mencari sesuatu yang bisa dipelajari. Mumpung banyak waktu untuk diri sendiri, harus dipergunakan juga untuk membangun diri. Pilihan jatuh pada sebuah tayangan interview seorang pendiri startup yang sedang viral. Tidak disangka tidak dikira, sosok tersebut sangat rendah hati, padahal bisnisnya sudah menjadi salah satu platform online shop yang terbesar di marketplace Indonesia. Mendengar cerita seorang yang sukses memang selalu menyenangkan dan menginspirasi, karena akhirnya selalu happy ending. Ternyata untuk menjadi sukses seperti ini, dia harus mengalami beberapa kali kegagalan. Sudah banyak cerita serupa, pendiri KFC misalnya. Berapa kali dia gagal dan ditolak, namun akhirnya kita bisa lihat sendiri kesuksesannya.

Jam 3, staff-nya Agnes mengabari bahwa petugas yang akan menginfus nanti sudah tiba di reception. Saya bersiap memakai masker dan menunggu dia mengetuk pintu.

Tok tok,… ini pertama kali saya menerima tamu. Saya terkejut karena yang datang ternyata laki-laki bertubuh tinggi, mengenakan APD berwarna kuning. Dia membawa sebuah air purifier yang tingginya kira-kira 80 cm dan meletakannya di dalam kamar. Lalu dia pamit untuk balik ke dekat lift untuk mengambil tiang infus.

Bapak itu sangat ramah dan terlihat profesional dalam mempersiapkan infusnya. Setelah menggunakan sarung tangan, dia mempersilahkan saya untuk mengambil posisi yang nyaman di ranjang. Saya memilih untuk duduk dan bersandar ke dinding beralaskan bantal. Lalu prosedur pun dimulai.

Jarum ditusukkan di lengan kiri dan vitamin kuning yang berada di dalam botol infus kecil itu pun mulai menetes. Dari tempat saya memandang, baju APD dan warna vitamin itu sangat selaras….

Bapak itu mengambil kursi dan dia duduk dekat pitu sambil menghadap air purifier yang sudah dinyalakan.

“Maaf ibu, boleh saya turunkan suhu AC nya? karena saya sangat kepanasan menggunakan APD”

“boleh pak”

“Ibu tidak kedinginan kan?”

“tidak pak”

“Wow, udara di kamar ini bersih ya bu. Tuh lampunya biru”

“oh mungkin karena saya pasang air purifier juga disini pak. Memangnya biasa yg lain kotor ya pak?”

“kalau pasien covid iya bu. Makanya saya selalu bawa alat ini kalau sedang tugas. Kalau ga ada alat ini saya ga berani.”

“ini kira-kira berapa menitan ya pak selesainya?”

“45 menit kira-kira bu. Monggo kalau ibu mau sambil tiduran”

Saya memilih untuk ngobrol dengan bapaknya. Sejak kecil saya melihat Papi Mami saya pandai bergaul. Keduanya sangat supel. Papi sering menjadi pembawa acara (MC) dan mami selalu tidak sungkan untuk menjadi yang pertama menyapa bila bertemu dengan orang baru. Dalam bahasa Sunda istilah ini disebut ‘gerecek’ (bukan kerecek lho ya). Saya rasa tabiat ini menurun pada saya.

Infus sudah selesai. Saya mengepel lantai. Masih menggunakan tissue basah handalan. Setelah itu saya nyalakan TV, tidak ada tayangan yang menarik. Semua masih membahas covid. Akhirnya saya lanjut drakor lagi. Sebuah kemewahan yang tidak akan terulang lagi, tanpa merasa guilty – melakukan kegiatan untuk menghibur diri.

Malam ini Pastor Budi dan Ci Nany, gembala di gereja saya, telepon untuk menanyakan kabar. Dia bercerita kalau beberapa hari terakhir banyak teman gereja yang terpapar. Pastor Budi & Ci Nany mendoakan saya. Mereka berharap saya segera sembuh dan cepat pulang. Saya bilang… ‘sudah terlanjur nyaman disini Pastor’ dan mereka pun tertawa. Thank you for your attention & support, Pastor.

Seperti biasa, Mami menelepon. Wajahnya sudah lebih berseri melihat saya sudah bisa tertawa. Dia bercerita kalau baru mendapat kabar bahwa teman sekolahnya dulu, meninggal karena covid. Dikira tipes sehingga hanya dirawat di rumah dan ketika sudah parah dibawa ke rumah sakit dan tak lama meninggal. Padahal temannya ini mengirimkan banyak info obat covid pada mami saya ketika dia tau saya terpapar. RIP Om.

Covid bagaikan penyakit 1000 wajah. Gejalanya bisa bermacam-macam. Variantnya pun sudah banyak. Teman-teman banyak yang bertanya, “Kamu kena varian apa?”

Seandainya saya bisa memilih, saya mau variant “Rhum & Raisin” – my favorite thing.

#23dayswithJesus

#mycovidjourney